KONTAN.CO.ID - Istilah Women's March kerap muncul dalam pemberitaan mengenai demonstrasi, gerakan sosial, dan perjuangan hak perempuan. Aksi ini melibatkan perempuan, aktivis, organisasi masyarakat, serta kelompok pendukung kesetaraan gender yang menyuarakan berbagai persoalan sosial dan kebijakan publik.
Secara umum, Women's March merupakan gerakan pawai atau aksi massa yang bertujuan memperjuangkan hak perempuan, kesetaraan gender, dan perlindungan terhadap kelompok yang mengalami diskriminasi. Gerakan ini tidak hanya berlangsung di Amerika Serikat, tetapi juga berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Lantas, apa sebenarnya Women's March, bagaimana sejarah kemunculannya, dan apa saja isu yang diperjuangkan?
Baca Juga: Daftar Hari Besar 8 November: Ada Peringatan Kesehatan hingga Tata Ruang
Apa Itu Women's March?
Melansir laman NOW, Women's March secara harfiah berarti pawai perempuan. Istilah ini merujuk pada gerakan demonstrasi dan kampanye publik yang mengangkat isu hak perempuan, kesetaraan gender, keadilan sosial, serta perlindungan hak asasi manusia.
Gerakan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi melalui aksi damai, orasi, poster, kampanye media sosial, diskusi, dan berbagai kegiatan advokasi.
Meskipun menggunakan nama Women's March, pesertanya tidak terbatas pada perempuan. Laki-laki, organisasi masyarakat sipil, komunitas, dan kelompok lain yang mendukung kesetaraan gender juga dapat berpartisipasi.
Gerakan ini juga tidak selalu memiliki satu agenda yang sama di setiap negara. Isu yang dibawa biasanya menyesuaikan kondisi sosial, politik, hukum, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Baca Juga: Apa Saja Hari Besar Setiap 7 November? Ada 4 Peringatan Penting Nasional dan Global
Sejarah Women's March di Dunia
Gerakan Women's March dikenal luas setelah aksi besar-besaran di Washington, Amerika Serikat, pada 21 Januari 2017. Demonstrasi tersebut berlangsung sehari setelah pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45.
Gagasan awal aksi muncul dari Teresa Shook, seorang perempuan asal Hawaii yang mengusulkan pawai melalui Facebook setelah pemilihan presiden Amerika Serikat pada November 2016. Gagasan tersebut kemudian mendapatkan dukungan luas dan berkembang menjadi gerakan demonstrasi berskala nasional maupun internasional.
Aksi utama yang dikenal sebagai Women's March on Washington diikuti ratusan ribu orang. Pada hari yang sama, demonstrasi serupa juga berlangsung di berbagai kota di Amerika Serikat dan negara lain sebagai bentuk solidaritas.
Salah satu latar belakang gerakan tersebut adalah kekhawatiran terhadap pernyataan dan arah kebijakan pemerintahan baru Amerika Serikat yang dinilai berpotensi memengaruhi hak perempuan, hak sipil, hak reproduksi, serta perlindungan kelompok minoritas.
Seiring perkembangannya, Women's March tidak hanya menjadi aksi protes terhadap pemerintahan tertentu. Gerakan ini berkembang menjadi jaringan advokasi yang mendorong perubahan kebijakan dan memperluas partisipasi masyarakat dalam memperjuangkan keadilan gender.
Baca Juga: Cek Daftar Hari Besar 6 November: Ada 3 Peringatan Penting Internasional
Tujuan dan Isu yang Diperjuangkan Women's March
Tujuan utama Women's March adalah mendorong terciptanya masyarakat yang lebih setara, aman, dan bebas dari diskriminasi. Namun, isu yang diangkat dapat berbeda sesuai kebutuhan setiap wilayah.
Berikut sejumlah isu yang kerap menjadi perhatian dalam gerakan ini:
1. Kesetaraan Gender
Kesetaraan gender menjadi salah satu agenda utama Women's March. Isu ini berkaitan dengan kesempatan yang setara bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik.
Gerakan ini juga mendorong penghapusan stereotip dan perlakuan diskriminatif yang membatasi kesempatan perempuan.
2. Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan
Kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan, dan perdagangan manusia, menjadi isu penting yang sering disuarakan.
Melalui aksi dan kampanye publik, peserta mendorong adanya perlindungan hukum, layanan pendampingan bagi korban, serta penanganan kasus yang berpihak pada keselamatan dan hak korban.
3. Hak Kesehatan dan Reproduksi
Isu kesehatan perempuan mencakup akses terhadap layanan kesehatan yang layak, edukasi kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, serta perlindungan terhadap perempuan dalam memperoleh layanan medis.
Dalam sejumlah aksi internasional, hak reproduksi juga menjadi isu yang menonjol, terutama berkaitan dengan kebijakan yang mengatur tubuh dan keputusan kesehatan perempuan.
Baca Juga: Apa Saja Hari Besar 5 November? Ada Hari Cinta Puspa dan Kesadaran Tsunami
4. Kesempatan Kerja dan Keadilan Ekonomi
Perempuan masih menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja, seperti kesenjangan upah, diskriminasi dalam proses perekrutan, keterbatasan kesempatan promosi, hingga persoalan perlindungan pekerja.
Karena itu, Women's March turut menyuarakan hak atas pekerjaan yang layak, upah yang adil, perlindungan pekerja, dan pengakuan terhadap pekerjaan perawatan yang sering tidak dibayar.
5. Keterwakilan Perempuan dalam Politik
Partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan juga menjadi perhatian. Gerakan ini mendorong kesempatan yang lebih besar bagi perempuan untuk terlibat dalam lembaga pemerintahan, parlemen, organisasi publik, dan proses penyusunan kebijakan.
Keterwakilan tersebut dinilai penting agar kebijakan publik dapat mempertimbangkan pengalaman dan kebutuhan masyarakat yang beragam.
6. Perlindungan Kelompok Rentan dan Minoritas
Sejumlah penyelenggara Women's March juga mengangkat persoalan diskriminasi berdasarkan identitas, kondisi sosial, disabilitas, ras, agama, maupun orientasi seksual.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa perjuangan kesetaraan gender berkaitan dengan persoalan ketidakadilan lain yang dialami kelompok rentan.
Baca Juga: Apa Saja Hari Besar Setiap 4 November? Ada 3 Peringatan Penting Internasional
Sejarah Women's March di Indonesia
Di Indonesia, Women's March pertama kali diselenggarakan pada 4 Maret 2017 di Jakarta. Aksi tersebut digelar menjelang peringatan Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap 8 Maret.
Gerakan ini menjadi bagian dari solidaritas internasional terhadap Women's March di Amerika Serikat, sekaligus membawa persoalan perempuan yang relevan dengan kondisi Indonesia.
Aksi pertama di Jakarta melibatkan sekitar 700 peserta dari berbagai organisasi, komunitas, aktivis, mahasiswa, dan masyarakat umum. Mereka berkumpul untuk menyuarakan tuntutan mengenai kesetaraan gender, perlindungan perempuan, keberagaman, dan keadilan sosial.
Dalam perkembangannya, Women's March Jakarta diinisiasi oleh Lintas Feminis Jakarta dan dilanjutkan sebagai kegiatan tahunan. Gerakan ini juga melibatkan kelompok rentan lainnya, termasuk pekerja rumah tangga, buruh migran, masyarakat adat, serta kelompok minoritas gender dan seksual.
Berbeda dengan aksi di Amerika Serikat yang memiliki latar belakang politik tersendiri, Women's March di Indonesia lebih banyak mengangkat persoalan hukum, sosial, dan kebijakan publik yang berkaitan dengan hak perempuan dan kelompok rentan.
Tonton: Rekening Dolar AS Melonjak 115%, Ada Apa dengan Rupiah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News