Inilah Unsur-Unsur Pembangun Puisi, dari Konotasi hingga Majas

Senin, 12 Desember 2022 | 17:09 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Inilah Unsur-Unsur Pembangun Puisi, dari Konotasi hingga Majas

ILUSTRASI. Inilah Unsur-Unsur Pembangun Puisi, dari Konotasi hingga Majas. Foto: Sapardi Djoko Damono


KONTAN.CO.ID -  Ketika membuat puisi, kita perlu memperhatikan unsur-unsur pembangunnya agar terdengar lebih indah. 

Anda pasti sudah pernah membaca puisi-puisi dari penyair terenal seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra, dan lainnya. 

Puisi-puisi karya para maestro tersebut sangat bermakna dengan pilihan kata-kata yang indah dan menyentuh. 

Agar bisa membuat sebuah puisi yang indah, ada 5 unsur intrinsik yang perlu diperhatikan. 

Baca Juga: 5 Cara Mudah Mencegah Batu Ginjal Tanpa Obat, Bisa Diterapkan Sejak Sekarang

Apa saja unsur-unsur pembangun puisi tersebut? Simak penjelasannya berikut ini, dirangkum dari situs Direktorat SMP Kemendikbud Ristek. 

Majas

Majas merupakan bahasa kias yang digunakan untuk melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain. 

Elemen ini sering dipakai dalam puisi sehingga membuat puisi tersebut lebih indah dengan menggunakan kata-kata yang menarik. 

Ada banyak sekali jenis majas, beberapa yang terkenal seperti personifikasi, hiperbola, eufimisme, ironi, retorika, dan sebagainya.

Sebagai contoh, majas personifikasi misalnya seperti “Pena itu menari-nari di atas kertas.” Contoh lainnya majas ironi, misalnya kalimat “Santun sekali perilakunya, berbicara saja harus dengan berteriak.”

Irama

Puisi jika dinbacakan dengan irama yang datar tentu tidak menarik. Agar pembawaannya lebih menakjubkan, tentunya diperlukan irama yang menyesuaikan dengan teks puisinya. 

Irama adalah alunan bunyi yang teratur dan berulang-ulang. Irama berfungsi memberi jiwa pada kata-kata dalam sebuah puisi.

Kata konotasi

Unsur pembangun puisi selanjutnya adalah kata konotasi. Elemen ini memang sering digunakan dalam kata-kata dalam puisi.

Kata-kata tersebut merupakan kiasan atau suatu perbandingan. Misalnya, kata benteng pada lirik kita berdiri bersama mencipta benteng kokoh memiliki makna konotasi, yaitu kekuatan yang diharapkan dapat dibangun oleh bangsa Indonesia.

Baca Juga: TKD dan AKHLAK Rekrutmen Bersama BUMN 2022: Ini Materi & Contoh Perilaku AKHLAK

Lambang

Lambang adalah sesuatu, seperti gambar, tanda, ataupun kata yang menyatakan maksud tertentu serta dapat dipahami oleh pembaca. 

Misalnya, bunga melambangkan keindahan merah melambangkan keberanian, dan lain sebagainya.

Imaji

Unsur terakhir dalam puisi yang tidak boleh dilewatkan adalah imaji. Tidak jarang penulis puisi akan menyelipkan beberapa kata imajinasi. 

Kata-kata tersebut bertujuan menimbulkan imajinasi atau khayalan seolah-olah pembaca atau pendengarnya merasakan, mendengar, atau melihat apa yang diungkapkan oleh penulis puisi. Misal seperti kata bersinar, diterpa kehangatan, dan sebagainya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru