​Waspada, inilah 4 masalah ban saat hujan dan cuaca ekstrem

Rabu, 24 Februari 2021 | 15:24 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
​Waspada, inilah 4 masalah ban saat hujan dan cuaca ekstrem

ILUSTRASI. Mobil melintas genangan air di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

KONTAN.CO.ID -  Curah hujan ekstrem yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia merupakan pertanda untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan berkendara. Terlebih, saat kendaraan Anda rentan terpapar banjir atau genangan. 

Sayang, tidak semua pengendara bisa mengantisipasi kejadian banjir yang tidak terduga. Akibatnya, mereka harus menanggung risiko kerusakan pada komponen vital kendaraan seperti ban akibat melibas banjir. 

Hal ini bukan hanya memengaruhi performa kendaraan, namun juga berimbas pada kerugian biaya perbaikan yang cukup besar. 

Sehingga, pemilihan ban yang tepat menjadi faktor terpenting untuk melintasi berbagai kontur jalan, seperti aspal, tanah, hingga bebatuan. 

Baca Juga: BMKG: Cuaca ekstrem berefek signifikan di Jabodetabek bisa terjadi hingga 27 Februari

Masalah ban saat hujan dan cuaca ekstrem 

Dirangkum dari keterangan resmi Hankook Tire, setidaknya ada empat risiko yang patut diwaspadai pengendara agar memaksimalkan mobilitas sehari-hari di tengah musim penghujan dan potensi banjir.

1. Objek tersembunyi pada ban

Saat melintasi genangan air, pengendara sulit untuk menghindari adanya objek tersembunyi yang tajam atau cukup keras. 

Misalnya, objek seperti paku yang menempel di kayu, bongkahan batu, atau semen tajam serta pecahan botol dapat berisiko menembus ban. 

2. Kerusakan casing break up (Shock CBU) 

Kerusakan casing break up (Shock CBU) juga berpotensi terjadi saat hujan dan banjir akibat ban yang terbentur dengan jalan rusak dan berlubang. Untuk itu, penting bagi pengendara untuk menjaga  kecepatan mobil dan jaga jarak aman antar kendaraan.

Dinding ban yang benjol menjadi tanda kerusakan ban akibat melintasi jalan rusak dan berlubang. 

Dengan berkendara tidak terlalu kencang, maka bisa meminimalisir benturan ke jalan yang rusak serta menghindari terciptanya ombak air yang bisa membuat air masuk ke dalam mesin yang berakibat merusak komponen elektrikal lainnya.

Baca Juga: Simak realisasi kinerja operasional United Tractors (UNTR) sepanjang tahun 2020

3. Ozone crack

Ozone crack adalah retakan pada ban karena setelah terendam air serta lumpur, ban terpapar sinar matahari secara terus menerus tanpa dipakai berkendara. 

Sinar matahari merupakan salah satu penghasil gas O3 (Ozone). Sering terjadi saat mobil disimpan di area terbuka sehingga terkena matahari. 

Untuk itu, penting untuk selalu mencuci kendaraan serta parkir ditempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung.

4. Skidding atau tergelincir 

Skidding atau tergeliuncir akibat kontrol traksi yang kurang optimal saat berpindah jalur atau bermanuver dengan mendadak. 

Selain dapat diwaspadai dengan mengurangi kecepatan berkendara, pengendara perlu menginjak dan melepaskan rem secara hati-hati, agar roda tidak terkunci dan memastikan tekanan udara ban sesuai dengan kebutuhan.

Adapun tekanan udara pada ban yang ideal bagi kendaraan penumpang atau MPV dan LCGC adalah 30-33 psi. Atau, untuk lebih detail, dapat diperiksa pada stiker tekanan udara yang tertera pada masing-masing kendaraan. 

Jika tekanan terlalu tinggi, maka akan menimbulkan tekstur ban yang keras akibat udara yang saling berhimpitan, dan ban kehilangan daya serap terhadap getaran. 

Begitu juga, bila tekanan ban kurang dari kebutuhan ideal akan membuat traksi pada tapak ban tidak berfungsi secara maksimal dalam memecah genangan air dan mengancam keselamatan pengendara.

Selanjutnya: TNI AU kerahkan 2 pesawat untuk modifikasi cuaca di Jabodetabek

 

Editor: Virdita Ratriani
Terbaru