Apa Itu Thucydides Trap? Istilah yang Muncul Pasca Pertemuan Xi Jinping dan Trump

Jumat, 15 Mei 2026 | 03:41 WIB
Apa Itu Thucydides Trap? Istilah yang Muncul Pasca Pertemuan Xi Jinping dan Trump

ILUSTRASI. CHINA-US-DIPLOMACY (AFP/KENNY HOLSTON)


Sumber: Reuters  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Mengenal Thucydides Trap yang ramai pasca pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump. Istilah Thucydides Trap kembali sering dibahas dalam hubungan internasional antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Teori Geopolitik ini dikaitkan pasca Xi Jinping menyinggung Thucydides Trap pada pertemuan dengan Donald Trump.

Lantas, apa sebenarnya Thucydides Trap dan mengapa konsep ini menjadi penting dalam politik dunia?

Baca Juga: Trump Akan Temui Xi Jinping di Beijing Mei 2026, Ini yang Dibahas

Pengertian Thucydides Trap

Melansir laman Reuters, Thucydides Trap merupakan istilah dalam hubungan internasional yang menggambarkan kondisi ketika kekuatan besar yang sedang naik menantang negara adidaya yang sudah dominan, sehingga meningkatkan risiko konflik atau perang.

Istilah ini dipopulerkan oleh ilmuwan politik asal AS, Graham Allison, melalui buku Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap?.

Konsep tersebut diambil dari catatan sejarah sejarawan Yunani kuno, Thucydides, yang menulis tentang Perang Peloponnesos antara Athena dan Sparta.

Menurut Thucydides, perang terjadi karena kebangkitan Athena membuat Sparta merasa takut kehilangan dominasinya.

Dalam konteks modern, Athena sering dianalogikan sebagai China yang sedang bangkit, sementara Sparta diibaratkan sebagai Amerika Serikat yang telah lama menjadi kekuatan dominan dunia.

Baca Juga: Setelah Tertunda, Donald Trump Akan Bertemu Xi Jinping di Beijing pada Mei 2026

Mengapa Dikaitkan dengan Xi Jinping?

Di era kepemimpinan Xi Jinping, China mengalami peningkatan pengaruh ekonomi, militer, dan geopolitik yang sangat besar.

Merangkum laman Reuters, China memperluas proyek global seperti Belt and Road Initiative (BRI), memperkuat militer, meningkatkan pengaruh teknologi, hingga mempertegas klaim wilayah di Laut China Selatan dan sekitar Taiwan.

Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran di Amerika Serikat dan negara-negara Barat mengenai perubahan tatanan global.

Hubungan kedua negara juga beberapa kali memanas akibat:

  • perang dagang AS-China,
  • pembatasan teknologi dan chip semikonduktor,
  • isu Taiwan,
  • sengketa Laut China Selatan,
  • hingga rivalitas kecerdasan buatan (AI).

Banyak analis kemudian menilai persaingan Washington-Beijing mencerminkan pola Thucydides Trap.

Baca Juga: Trump Desak Xi Jinping Bebaskan Jimmy Lai, Soroti Kesehatan Taipan Media Hong Kong

Apakah Thucydides Trap Selalu Berujung Perang?

Meski teori ini menjelaskan risiko konflik, sejumlah pakar menilai perang bukan hasil yang pasti. Dalam beberapa kasus sejarah, negara yang sedang naik dan negara dominan mampu menghindari perang melalui diplomasi, kerja sama ekonomi, dan keseimbangan kepentingan.

Karena itu, banyak pengamat menilai hubungan AS-China saat ini masih berada pada tahap kompetisi strategis, bukan perang terbuka.

Meski demikian, ketegangan di kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi perhatian dunia internasional karena melibatkan ekonomi global, jalur perdagangan, dan stabilitas keamanan regional.

Baca Juga: Tegas! Pejabat Kelas Atas China Jadi Buruan Xi Jinping

Kritik terhadap Teori Thucydides Trap

Teori ini juga mendapat kritik karena dianggap terlalu menyederhanakan hubungan internasional modern.

Beberapa akademisi menilai kondisi dunia saat ini berbeda dengan era Yunani kuno karena adanya:

  • Globalisasi ekonomi
  • Organisasi internasional
  • Senjata nuklir
  • Ketergantungan perdagangan antarnegara
  • Diplomasi multilateral

Artinya, meski rivalitas kekuatan besar tetap ada, peluang penyelesaian damai masih terbuka lebar.

Thucydides Trap penting dipahami karena membantu menjelaskan mengapa persaingan antara negara besar dapat memengaruhi ekonomi, perdagangan, keamanan, dan politik global.

Ketika hubungan AS dan China memanas, dampaknya bisa terasa hingga negara berkembang, termasuk Indonesia, mulai dari rantai pasok industri, investasi, nilai tukar, hingga stabilitas kawasan Asia Pasifik.

Tonton: Xi Jinping Ajak Donald Trump Nakhodai 'Kapal Raksasa' Hubungan China-AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru