Awas, terpapar virus corona bisa sebabkan serangan jantung

Rabu, 28 Juli 2021 | 20:00 WIB   Penulis: Belladina Biananda
Awas, terpapar virus corona bisa sebabkan serangan jantung

KONTAN.CO.ID - Virus corona memang menyerang sistem pernapasan manusia. Namun, bukan berarti bagian tubuh yang lain tak bisa terganggu akibat serangan virus tersebut. Salah satunya adalah gangguan pada jantung.

Mengutip dari Only My Health, infeksi virus corona bisa memicu penggumpalan darah di beberapa bagian tubuh.

Selain itu, Covid-19 juga bisa melemahkan otot jantung. Akibatnya, banyak penyintas Covid-19 yang mengalami gagal jantung atau gangguan jantung yang lain.

Risiko penggumpalan darah dalam tubuh juga bisa meningkat karena beberapa faktor risiko. Mulai dari usia tua, diabetes hingga penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Untuk menghindari masalah kesehatan yang lebih serius, Anda perlu mewaspadai gejala-gejala yang Anda alami.

Baca Juga: Campuran jeruk nipis & air kelapa bisa sembuhkan Covid? Ini penjelasan pakar UGM

Baca Juga: Anosmia Covid-19 bisa sembuh sendiri? Simak informasinya

Melansir Only My Health, ada beberapa gejala serangan jantung setelah terinfeksi virus corona. Gejala ini adalah sesak napas, pembengkakan di kaki atau bagian tubuh yang lain, dan palpitasi atau jantung berdebar.

Detak jantung yang berubah secara fluktuatif dapat dialami penyintas Covid-19 beberapa minggu atau beberapa bulan setelah dinyatakan sembuh. Jika tak tertangani dengan baik, bukan tidak mungkin Anda mengalami serangan jantung.

Kondisi jantung Anda pun dapat memburuk seiring berjalannya waktu.

Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menghindari berbagai macam komplikasi. Saat mengalami sesak napas atau palpitasi, jangan ragu untuk melakukan beberapa pemeriksaan. Misalnya, MRI, tes darah, dan pemeriksaan yang lain.

Pantau kondisi tubuh selama 24 jam agar kesehatan selalu terkontrol. Anda bisa mengonsumsi obat antiaritmik atau steroid supaya detak jantung lebih terjaga. Tapi, tentu saja Anda harus berkonsultasi dulu dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Selanjutnya: Apakah anosmia atau hilang penciuman bisa sembuh sendiri?

Editor: Belladina Biananda
Terbaru