KONTAN.CO.ID - Simak latar belakang Hari Buruh disebut May Day di seluruh dunia. Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei sering disebut sebagai May Day.
Istilah May Day sudah sangat populer di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Namun, di balik penyebutan tersebut, ada sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perjuangan buruh di masa lalu. Berikut penjelasan lengkapnya dari sejarah dan latar belakangnya.
Baca Juga: Hindari Monas! Ratusan Ribu Peserta Hari Buruh 2026 Bakal Kumpul, Prabowo Juga Hadir
Asal-usul Istilah May Day
Menurut Britannica, secara bahasa, “May Day” berasal dari bahasa Inggris:
- May berarti bulan Mei
- Day berarti hari
Jadi, May Day secara harfiah berarti “Hari di bulan Mei”, tepatnya tanggal 1 Mei. Awalnya, istilah ini tidak berhubungan dengan buruh, melainkan digunakan di Eropa sebagai perayaan musim semi yang identik dengan kesuburan dan kehidupan baru.
Namun, makna ini berubah drastis setelah dikaitkan dengan gerakan buruh pada akhir abad ke-19.
Baca Juga: Prabowo Siapkan Kebijakan Buruh pada May Day 2026, Apa Isinya?
Latar Belakang Perjuangan Buruh
Pada masa Revolusi Industri, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa, kondisi kerja buruh sangat berat. Mereka harus bekerja hingga 12–16 jam sehari dengan upah rendah dan kondisi kerja yang tidak layak.
Karena itu, muncul tuntutan besar dari para pekerja untuk:
- Mengurangi jam kerja menjadi 8 jam sehari
- Mendapatkan upah yang lebih adil
- Memperbaiki kondisi kerja
Tanggal 1 Mei kemudian dipilih sebagai hari aksi besar-besaran untuk menyuarakan tuntutan tersebut.
Baca Juga: Prabowo Hadiri May Day 2026 di Monas, 400.000 Buruh Diperkirakan Hadir
Peristiwa Penting: Haymarket Affair
Puncak gerakan buruh terjadi pada 1 Mei 1886 di Chicago, Amerika Serikat. Aksi mogok kerja berlangsung besar-besaran dan diikuti oleh ratusan ribu buruh.
Beberapa hari kemudian, terjadi insiden yang dikenal sebagai Haymarket Affair. Dalam peristiwa ini, terjadi ledakan bom saat demonstrasi yang menewaskan sejumlah polisi dan warga sipil. Situasi menjadi ricuh dan berujung pada penindakan keras terhadap para aktivis buruh.
Peristiwa ini kemudian menjadi simbol perjuangan buruh melawan ketidakadilan.
Penetapan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional
Untuk mengenang perjuangan tersebut, organisasi buruh internasional seperti Second International pada tahun 1889 menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.
Sejak saat itu, banyak negara di dunia mulai memperingati 1 Mei sebagai hari solidaritas pekerja, sekaligus momentum untuk menyuarakan hak-hak buruh.
Seiring waktu, May Day tidak hanya menjadi simbol perjuangan buruh, tetapi juga:
- Hari solidaritas pekerja global
- Momentum evaluasi kebijakan ketenagakerjaan
- Ajang penyampaian aspirasi buruh
Di beberapa negara, May Day identik dengan aksi demonstrasi. Namun di negara lain, termasuk Indonesia saat ini, peringatannya juga diisi dengan kegiatan yang lebih damai seperti seminar, dialog, hingga hiburan rakyat.
Baca Juga: Jumhur Tetap Akan Pimpin Aksi May Day, Siap Kawal 300.000 Buruh di Monas
May Day di Indonesia
Di Indonesia, Hari Buruh sempat tidak diperingati secara resmi pada masa tertentu. Namun sejak tahun 2013, pemerintah menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional.
Kini, May Day menjadi momen penting bagi pekerja di Indonesia untuk:
- Menyuarakan hak-hak tenaga kerja
- Mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada buruh
- Mengingat sejarah perjuangan pekerja dunia
May Day bukan sekadar nama, melainkan simbol sejarah panjang perjuangan buruh. Istilah ini berasal dari tanggal 1 Mei yang kemudian diperingati secara global setelah peristiwa penting dalam gerakan buruh, khususnya di Amerika Serikat.
Dari perayaan musim semi hingga menjadi hari perjuangan pekerja internasional, May Day menunjukkan bagaimana sebuah tanggal bisa memiliki makna yang sangat dalam bagi jutaan orang di seluruh dunia.
Tonton: Subsidi Motor Listrik Dipangkas, ALVA Ungkap Masalah Utama Ada di Ekosistem
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News