Sejarah Selat Malaka: Jalur Laut Asia Tenggara Hingga Tantangan Terkini

Sabtu, 25 April 2026 | 06:20 WIB
Sejarah Selat Malaka: Jalur Laut Asia Tenggara Hingga Tantangan Terkini

ILUSTRASI. Selat Malaka (REUTERS/Reuters Staff)


Penulis: Bimo Kresnomurti  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Mengenal apa itu Selat Malaka dan sejarahnya. Dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat salah satu selat terpenting di dunia, Selat Hormuz sering menjadi titik rawan, hingga perhatian internasional terhadap peran Selat Malaka.

Ketegangan politik atau konflik berpotensi mengganggu arus pengiriman minyak. Jika terjadi hambatan di Hormuz, maka dampaknya akan terasa hingga ke Selat Malaka, baik dalam bentuk lonjakan harga energi maupun perubahan jalur pelayaran.

Sebaliknya, Selat Malaka menghadapi tantangan yang berbeda, seperti kepadatan lalu lintas kapal, risiko kecelakaan, serta isu keamanan maritim. 

Baca Juga: Asia Tenggara Darurat Cuaca Ekstrem: Vietnam, Thailand, & Malaysia Dilanda Banjir

Meskipun relatif lebih stabil secara geopolitik dibanding Hormuz, posisi Malaka tetap krusial karena menjadi titik sempit (chokepoint) yang sulit digantikan.

Melansir laporan Kontan.co.id, Indonesia melalui Kemenlu RI menegaskan tidak mengambil keuntungan dari Selat Malaka atas kondisi Selat Hormuz saat ini.

Lalu, seperti apa sejarah dari Selat Malaka? Ketahui perjalanan panjang hingga kepemilikan saat ini.

Baca Juga: Tren Belanja Barang Mewah Melambat pada 2026, Pertumbuhan Bergeser ke Asia Tenggara

Sejarah Selat Malaka

Sejarah Selat Malaka tidak bisa dilepaskan dari kejayaan kerajaan-kerajaan maritim di Asia Tenggara. Pada abad ke-7 hingga ke-13, Kerajaan Sriwijaya menguasai jalur ini dan menjadikannya pusat perdagangan serta pelayaran. Sriwijaya memanfaatkan posisi strategis Selat Malaka untuk mengontrol arus barang seperti rempah-rempah, emas, dan hasil bumi lainnya.

Setelah kemunduran Sriwijaya, peran Selat Malaka dilanjutkan oleh Kesultanan Malaka pada abad ke-15. Kesultanan ini berkembang pesat sebagai pusat perdagangan internasional yang ramai dikunjungi pedagang dari Arab, India, hingga Tiongkok. Selat Malaka saat itu menjadi titik temu berbagai budaya dan jalur distribusi barang global.

Memasuki era kolonial, kekuatan Eropa mulai memperebutkan kendali atas kawasan ini. Bangsa Portugis menjadi yang pertama menguasai Malaka pada 1511, disusul oleh Belanda, dan kemudian Inggris. Penguasaan ini didorong oleh kepentingan ekonomi dan strategi militer untuk mengendalikan jalur perdagangan dunia.

Selat Malaka menjadi salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia yang memiliki nilai strategis tinggi, baik dari sisi sejarah, ekonomi, maupun geopolitik.

Baca Juga: Siapa Sebenarnya yang Memenangkan Hati Asia Tenggara, Trump atau Xi?

Kepemilikan dan Status Hukum

Berbeda dengan wilayah daratan, Selat Malaka tidak dimiliki oleh satu negara secara penuh. Secara geografis dan hukum internasional, selat ini berada di antara tiga negara utama, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Melansir laman PBB, pengelolaan Selat Malaka diatur berdasarkan ketentuan hukum laut internasional, khususnya United Nations Convention on the Law of the Sea.

Dalam aturan tersebut, Selat Malaka dikategorikan sebagai selat yang digunakan untuk pelayaran internasional, sehingga kapal dari berbagai negara memiliki hak lintas damai (right of transit passage).

Meski demikian, negara-negara pesisir tetap memiliki kewenangan dalam menjaga keamanan, keselamatan pelayaran, serta perlindungan lingkungan di wilayah perairannya masing-masing.

Baca Juga: Korban Tewas Akibat Banjir di Asia Tenggara Tembus 183 Jiwa, Evakuasi Terus Dikebut

Perkembangan hingga Saat Ini

Hingga kini, Selat Malaka tetap menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Diperkirakan lebih dari 80.000 kapal melintasi selat ini setiap tahunnya, termasuk kapal tanker yang mengangkut minyak dari Timur Tengah ke negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Peran strategis Selat Malaka semakin penting dalam era globalisasi, terutama dalam rantai pasok energi dan perdagangan internasional. Namun, kepadatan lalu lintas ini juga menimbulkan berbagai tantangan, seperti risiko kecelakaan kapal, pencemaran laut, serta ancaman keamanan seperti perompakan.

Untuk mengatasi hal tersebut, negara-negara di sekitar Selat Malaka bekerja sama dalam menjaga keamanan dan keselamatan pelayaran. Inisiatif patroli bersama serta penggunaan teknologi navigasi modern terus dikembangkan guna memastikan jalur ini tetap aman dan efisien.

Selain itu, muncul pula wacana alternatif jalur perdagangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Malaka, seperti pembangunan kanal di Thailand atau pengembangan jalur darat. Meski demikian, hingga saat ini Selat Malaka tetap menjadi jalur utama yang sulit tergantikan karena posisi geografisnya yang sangat strategis.

Tonton: Prabowo Kembali ke Prancis! Ada Agenda Besar di Balik Kedekatan dengan Macron

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru