Selamat Merayakan Lebaran Ketupat, Pahami Sejarah dan 4 Filosofi di Baliknya

Sabtu, 28 Maret 2026 | 09:30 WIB
Selamat Merayakan Lebaran Ketupat, Pahami Sejarah dan 4 Filosofi di Baliknya

ILUSTRASI. Penjualan kulit ketupat jelang Idul Adha di Makassar (ANTARA FOTO/ARNAS PADDA)


Sumber: Kementerian Kebudayaan  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Simak sejarah Ketupat yang dimasak pasca Lebaran Idulfitri. Ketupat merupakan salah satu hidangan khas yang sangat identik dengan perayaan Idulfitri di Indonesia.

Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa (janur) ini tidak hanya sekadar kuliner, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan filosofi yang mendalam.

Terlebih lagi, Indonesia merayakan Lebaran Ketupat pada tanggal 8 Syawal atau Sabtu, 28 Maret 2026.

Untuk itu, simak sejarah Ketupat yang dimasak pasca Lebaran Idulfitri.

Baca Juga: Kapan Lebaran Ketupat 2026 Tiba? Siapkan Hidangan Khas dan Makna Filosofisnya

Sejarah Ketupat

Melansir laman Kemenbud, makanan Ketupat dipercaya berasal dari wilayah Pulau Jawa, khususnya berkembang dalam tradisi masyarakat Jawa sejak masa penyebaran Islam.

Dalam bahasa Jawa, ketupat sering disebut “kupat”, yang kemudian dikaitkan dengan makna simbolik dalam budaya lokal.

Seiring waktu, tradisi ketupat menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan ke negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei.

Baca Juga: Apa Saja Kegiatan Lebaran Ketupat? Ini Tradisi Perekat Keluarga & Warisan Nusantara

Peran Sunan Kalijaga dalam Tradisi Ketupat

Sejarah ketupat tidak lepas dari peran Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Ia menggunakan pendekatan budaya lokal untuk menyampaikan ajaran Islam agar lebih mudah diterima masyarakat.

Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi “Bakda Kupat”, yaitu perayaan setelah Idulfitri yang biasanya dilakukan sekitar satu minggu setelah Lebaran.

Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus ajang silaturahmi antarwarga.

Baca Juga: Mudik Lebaran 2026 Melonjak: Cetak Arus Balik Tertinggi Sepanjang Sejarah

Filosofi Ketupat

Ketupat tidak hanya unik dari segi bentuk, tetapi juga sarat makna filosofis, terutama dalam budaya Jawa:

1. Kupat (Ngaku Lepat)

Diartikan sebagai “mengakui kesalahan”, sejalan dengan tradisi saling memaafkan saat Lebaran.

2. Anyaman Janur

Bentuk dari Anyaman Janur kelambangkan kompleksitas kesalahan manusia.

3. Isi Beras Putih

Setelah dibelah, ketupat berwarna putih bersih, yang melambangkan kesucian setelah memohon ampun.

4. Bentuk Segi Empat

Terakhir, bentuk dari segi empat ini diartikan sebagai keseimbangan hidup dan arah mata angin.

Dalam praktiknya, ketupat hampir selalu disajikan bersama hidangan khas lain seperti opor ayam, rendang, atau sambal goreng ati. Tradisi ini memperkuat makna kebersamaan dalam keluarga.

Di beberapa daerah, bahkan ada perayaan khusus seperti Lebaran Ketupat yang digelar seminggu setelah Idulfitri.

Ketupat bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari warisan budaya dan sejarah Islam di Indonesia. Berasal dari tradisi masyarakat Jawa dan dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga, ketupat mengandung filosofi mendalam tentang pengakuan kesalahan, kesucian, dan kebersamaan.

Tonton: Houthi Siaga Tinggi Bela Iran, Bersiap Serang Jalur Minyak Global!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru