Muktamar Muhammadiyah & Aisyiyah 2022, Simak Sejarah Singkat Berdirinya Muhammadiyah

Sabtu, 19 November 2022 | 09:15 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Muktamar Muhammadiyah & Aisyiyah 2022, Simak Sejarah Singkat Berdirinya Muhammadiyah


KONTAN.CO.ID -  Muktamar Muhammadiyah dan'Aiyiyah ke-28 tahun ini sudah dimulai pada Jumat 18 November 2022 di Kota Surakarta. 

Forum musyawarah tertinggi ini merupakan bagian penting dari Muhammadiyah karena di dalamnya terdapat banyak rangkaian kegiatan seperti pemilihan pengurus tingkat dan menyusun program kerja lima tahunan.

Kegiatan Muktamar Muhammadiyah ke-28 ini berlangsung hingga hari Minggu, 20 November 2022 di Surakarta/Solo, Jawa Tengah. 

Tema yang diusung dalam Muktamar Muhammadiyah tahun ini adalah  "Memajukan Indonesia Mnecerahkan Semesta". 

Sedangkan tema dari Muktamar 'Aisyiyah yaitu "Perempuan Berkemajuan Mencerahkan Peradaban bangsa". 

Baca Juga: Ragam Khasiat Daun Kelor untuk Kesehatan Tubuh, Baik Buat Diabetes hingga Jantung

Sejarah singkat baerdirinya Muhammadiyah

Muhammadiyah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tanggal 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 H. 

Salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia ini didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis di Kampung Kauman Yogyakarta. 

Secara harfiah, kata "Muhammadiyah" dalam bahasa Indonesia memiliki arti "Pengikut Nabi Muhammad". 

Penggunaan kata ”Muhammadiyah” dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad. 

Persyarikatan Muhammadiyah ini berdiri untuk mendukung upaya K.H. Ahmad Dahlan dalam memurnikan ajaran Islam yang menurutnya banyak dipengaruhi hal-hal mistik.

Bersumber dari situs Muhammadiyah, beberapa faktor yang mendorong berdirinya Muhammadiyah yakni: 

  • Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bid’ah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat Islam tidak merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi
  • Ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat;
  • Kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memprodusir kader-kader Islam, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman;
  • Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, berada dalam konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme;
  • Keinsyafan akan bahaya yang mengancam kehidupan dan pengaruh agama Islam, serta berhubung dengan kegiatan misi dan zending Kristen di Indonesia yang semakin menanamkan pengaruhnya di kalangan rakyat

Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha

Baca Juga: 5 Link Beli E-Meterai untuk Persyaratan PPPK 2022, Harga, dan Cara Membubuhkannya

Selain itu peran Muhammadiyah dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hogere School Moehammadijah

Kemudian berganti nama menjadi Kweek School Moehammadijah yang bertempat di Yogyakarta dan dibawahi langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 

Saat ini nama tersebut dikenal dengan Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta khusus laki-laki, yang bertempat di Jalan S. Parman no 68 Patangpuluhan kecamatan Wirobrajan dan Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta khusus Perempuan, di Suronatan Yogyakarta yang keduanya sekarang menjadi Sekolah Kader Muhammadiyah 

Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama “Muhammadiyah” pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu. 

Beliau merupakan seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta. Kemudian nama tersebut diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui salat istikharah. 

Pada masa kepemimpinan Kyai Dahlan (1912-1923), pengaruh Muhammadiyah terbatas di karesidenan-karesidenan seperti Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan, sekitar daerah Pekalongan sekarang. 

Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatra Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. 

Dalam waktu yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatra Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. 

Pada tahun 1938 hingga sekarang, Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru