Ada Fenomena Soltis Titik Balik Matahari Juni, Ini Dampaknya ke Bumi

Rabu, 22 Juni 2022 | 05:34 WIB Sumber: Kompas.com
Ada Fenomena Soltis Titik Balik Matahari Juni, Ini Dampaknya ke Bumi

ILUSTRASI. Fenomena Solstis Juni umumnya terjadi antara tanggal 20-21 Juni dan bergeser dalam waktu ratusan hingga ribuan tahun. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Apakah Anda tahu, ada sebuah fenomena yang disebut dengan fenomena Solstis Juni (June Solstice atau Titik Balik Matahari di bulan Juni) yang terjadi pada setiap bulan Juni?

Fenomena Solstis Juni umumnya terjadi antara tanggal 20-21 Juni dan bergeser dalam waktu ratusan hingga ribuan tahun.  

Sementara, ketika Matahari berada paling selatan dari ekuator ketika tengah hari, atau disebut fenomena Solstis Desember (Titik Balik Matahari di bulan Desember), terjadi antara tanggal 20-21 Desember.  

Fenomena Solstis Juni adalah titik paling utara yang dapat dicapai Matahari dalam siklus gerak semu tahunannya sebagai akibat revolusi Bumi dan kemiringan sumbu rotasi Bumi. 

Astronom Amatir Indonesia Marufin Sudibyo menjelaskan, pada saat Solstis Juni, Matahari tepat berkedudukan di atas Garis Balik Utara (tropic of Cancer), yakni garis lintang 23º 27' Lintang Utara (LU). 

Baca Juga: Para Ahli di China Buat Peta Bulan yang Super Detail, Mau Lihat Bulan Lebih Detail?

Akibat saat fenomena Solstis atau Titik Balik Matahari 21 Juni ini terjadi, belahan Bumi utara mengalami puncak musim panas, di mana untuk daerah subtropis akan mengalami siang terpanjang.   

Sedangkan daerah lingkar kutub utara, saat Titik Balik Matahari ini terjadi, akan mengalami fenomena Matahari tengah malam (Midnight sun), di mana Matahari akan terus tampak (berada di atas cakrawala) baik di kala siang maupun malam.   

"Hanya arahnya saja yang berubah-ubah seiring waktu," ujarnya. 

Sebaliknya, belahan Bumi selatan akan mengalami puncak musim dingin, dengan siang terpendek untuk daerah subtropis.  

Sementara saat fenomena Solstis Juni ini, daerah lingkar kutub selatan mengalami fenomena Malam Kutub (polar night), di mana Matahari tak pernah terlihat dan langit senantiasa gelap baik di saat malam ataupun siang.  

Dengan kata lain, ketika fenomena Solstis Juni terjadi, belahan Bumi Utara akan lebih condong dan lebih dekat ke arah Matahari.  

Sehingga, radiasi Matahari yang diterima lebih besar dan lebih lama dibandingkan dengan belahan Bumi Selatan untuk waktu yang sama.  

Hal ini juga dapat memengaruhi durasi siang, atau lazim disebut daylight, bagi belahan Bumi Utara. Durasi siang adalah selang waktu antara terbit Matahari hingga terbenam Matahari. 

Baca Juga: Ada Fenomena Bubble Burst, Pengamat Melihat Startup Memang Sangat Rentan

Apa dampak fenomena Solstis Juni ini?  

Marufin menjelaskan, dampak dalam kedudukan demikian maka panjang siang hari di belahan Bumi Utara akan mencapai maksimum. 

Selain itu, Matahari akan terlihat selama 24 jam penuh dalam sehari di lingkar kutub Utara. 

"Sebaliknya bagi belahan Bumi selatan, maka menjadi penanda musim dingin dengan panjang siang hari mencapai nilai minimum," kata dia. 

Sedangkan, langit akan gelap selama 24 jam penuh dalam sehari di lingkar kutub selatan. 

Sebagai informasi, Belahan Bumi Selatan terdiri dari benua Antarktika, Australia, beberapa Amerika Selatan, beberapa Afrika dan Asia serta empat samudera yaitu Samudera Atlantik, Samudera Hindia, Samudera Pasifik dan Samudera Selatan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Ini Fenomena Solstis Titik Balik Matahari Bulan Juni, Begini Pengaruhnya"
Penulis : Ellyvon Pranita
Editor : Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru