O

Fakta menarik ketupat, hidangan khas yang selalu dihidangkan saat Hari Raya Lebaran

Rabu, 12 Mei 2021 | 06:45 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Fakta menarik ketupat, hidangan khas yang selalu dihidangkan saat Hari Raya Lebaran


KONTAN.CO.ID - [Pra-tayang Rabu] Opor ayam, sambal goreng hati, dan ketupat adalah sajian Hari Raya Idul Fitri yang tidak pernah absen di meja makan. 

Sajian tersebut memang identik dengan Hari Raya Lebaran dan akan terasa kurang jika tidak menyantapnya. 

Ketupat dihidangkan sebagai pengganti nasi yang dimasak dengan cara biasa. Berbeda dengan lontong yang menggunakan daun pisang, ketupat menggunakan janur atau daun kelapa muda. 

Nasi yang sudah dibersihkan, dimasukkan ke dalam anyaman janur kemudian direbus. Setelah matang, ketupat siap disajikan bersama opor dan sambal goreng.

Selain di Indonesia, bersumber dari Instagram Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat, ketupat juga biasa ditemui di negara Malaysia, Singapura, Brunei, bahkan Filipina. 

Selain ketupat, makanan ini ternyata memiliki banyak julukan yang berbeda di tiap daerah. Orang Jawa dan Sunda biasa menyebutnya dengan "ketupat", namun orang Bali menyebutnya dengan "tipat".

Lain lagi dengan masyarakat Minangkabau yang akrab menyebut ketupat dengan "katupek". Di daerah Madura, panganan ini biasa disebut dengan "ketopak". 

Selain nikmat disantap bersama opor, ketupat juga pas dihidangkan bersama satai. 

Baca Juga: Tips mudah memulai bisnis buat mahasiswa untuk tambahan uang saku selama kuliah

Fakta menarik dan filosofi ketupat

Ternyata ada banyak fakta menarik dari ketupat atau kupat serta filosofi dari makanan khas saat Lebaran ini. Makanan ini pertama kali diperkenalkan oleh salah satu Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga, kepada masyarakat Jawa.

Bersumber dari Instagram Disdik Jawa Barat, beliau membudayakan dua tradisi "bakda" saat memperkenalkan ketupat. 

Dua tradisi tersebut adalah "Bakda Lebaran" dan "Bakda Kupat". Bakda Lebaran dirayakan saat Idul Fitri, sedangkan Bakda Kupat dirayakan seminggu setelah Lebaran. 

Pada saat itu, banyak rumah-rumah di Jawa akan membuat ketupat. Setelah masak, ketupat akan diantarkan ke kerabat yang lebih tua. 

Ketupat yang sudah dicampur dengan makanan bersantan seperti opor dinamakan dengan "kupa santen". 

Nama ini ternyata memiliki makna yang cukup dalam. Kupa santen merupakan singkatan dari Bahasa Jawa "kulo lepat nyuwun pangapunten" yang artinya saya salah, mohon maaf.  

Tradisi ini perlahan menjadi bagian dari perayaan Idul Fitri dan simbol kebersamaan umat Islam. Rumitnya anyaman janur pada ketupat merupakan cerminan dari keberagaman kesalahan manusia. 

Saat ketupat dibuka, makan nasi putih akan terlihat. Warna putih dari nasi ini mencerminkan kesucian serta kebersihan hati setelah memohon keampunan. 

Bentuk ketupat yang sempurna ternyata juga menyimpan filosofi yang menarik. Bentuk tersebut menjadi simbol kemenangan umat Islam yang telah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri.

Selanjutnya: 10 Kegunaan dari baking soda, dari penghilang bau badan hingga pemutih gigi

Editor: Tiyas Septiana
Terbaru