Kenapa 14 Februari Identik dengan Valentine? Ada Kisah Tak Terduga dalam Sejarah

Sabtu, 14 Februari 2026 | 06:40 WIB
Kenapa 14 Februari Identik dengan Valentine? Ada Kisah Tak Terduga dalam Sejarah

ILUSTRASI. Ucapan valentine (Dok/Freepik)


Penulis: Bimo Kresnomurti  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Ketahui latar belakang tanggal 14 Februari identik dengan Hari Valentine. Momen 14 Februari di berbagai belahan dunia identik dengan Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day).

Perayaan ini umumnya diisi dengan pertukaran hadiah, cokelat, bunga mawar merah, kartu ucapan, hingga makan malam romantis sebagai simbol ungkapan cinta.

Namun, penetapan 14 Februari sebagai hari kasih sayang bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba. Tradisi ini lahir dari perpaduan sejarah Kristen awal, ritual Romawi kuno, serta perkembangan budaya yang berlangsung selama berabad-abad.

Baca Juga: Peringatan 14 Februari: Tidak Hanya Hari Valentine, Ada Hari Besar Penting Ini!

Tanggal 14 Februari bertahan sebagai Hari Valentine karena kombinasi beberapa faktor: makna religius yang dikaitkan dengan Santo Valentinus, warisan simbol kesuburan dari tradisi Romawi kuno, penguatan makna romantis di era abad pertengahan, serta dorongan komersialisasi modern.

Perpaduan unsur sejarah, budaya, dan ekonomi inilah yang membuat 14 Februari terus dikenang sebagai hari perayaan cinta hingga sekarang.

Lalu, kenapa perayaan ini bisa terjadi hingga dirayakan sampai abad ini? Cek informasi menarik selengkapnya.

Baca Juga: Apa Itu WFA untuk ASN saat Lebaran 2026? Intip Kebijakan Terbaru Pemerintah

Asal-Usul Sejarah: Santo Valentinus dan Martir Abad ke-3

Dalam Buku Hari Valentine: Mengenal Sejarah dan Perkembangan Perayaan Valentine oleh Zamhari, Nama “Valentine” diyakini berasal dari Santo Valentinus, seorang imam Kristen yang hidup pada abad ke-3 Masehi di Roma.

Kaisar Claudius II Gothicus melarang pernikahan bagi pria muda karena menganggap mereka akan menjadi prajurit yang lebih baik tanpa ikatan keluarga. Santo Valentinus menentang kebijakan tersebut dengan menikahkan pasangan muda secara diam-diam.

Akibat tindakannya, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada 14 Februari sekitar tahun 269 atau 270 M. Sebelum dieksekusi, konon ia menulis surat kepada putri sipir penjara dan menutupnya dengan kalimat “From your Valentine”, yang kemudian dianggap sebagai cikal bakal tradisi kartu Valentine.

Pada tahun 496 M, Paus Gelasius I menetapkan 14 Februari sebagai hari peringatan Santo Valentinus. Meski pada 1969 Gereja Katolik menghapus namanya dari kalender santo resmi karena minimnya bukti historis yang kuat, tanggal tersebut telanjur melekat sebagai simbol cinta dan pengorbanan.

Baca Juga: Cek Jadwal Imsak Ramadan 2026 dari Kemenag & Muhammadiyah, Sudah Dirilis!

Pengaruh Festival Romawi Kuno: Lupercalia

Sebelum menjadi peringatan Kristen, pertengahan Februari di Roma dirayakan sebagai Lupercalia, sebuah festival kesuburan untuk menghormati dewa Faunus dan legenda Romulus-Remus. Ritualnya melibatkan prosesi simbolis yang diyakini membawa kesuburan dan keberuntungan.

Salah satu tradisinya adalah undian pasangan, di mana nama perempuan dimasukkan ke dalam wadah dan diambil secara acak oleh pria untuk menjadi pasangan selama festival.

Ketika Kekristenan menyebar, gereja berupaya menggantikan tradisi pagan tersebut dengan peringatan santo martir. Proses inilah yang secara bertahap mengaitkan pertengahan Februari dengan cinta dan relasi pasangan.

Baca Juga: Peringatan 12 Februari: Ini 4 Momen Global yang Tak Banyak Diketahui!

Evolusi Modern: Dari Puisi hingga Komersialisasi

Pada abad ke-14, penyair Inggris Geoffrey Chaucer melalui puisinya The Parliament of Fowls (1382) mulai mengaitkan 14 Februari dengan musim burung memilih pasangan. Karya ini memperkuat citra romantis tanggal tersebut di Eropa abad pertengahan.

Memasuki abad ke-19, revolusi industri memungkinkan produksi massal kartu ucapan dan cokelat. Di Amerika Serikat, perusahaan Hallmark mempopulerkan kartu Valentine pada awal abad ke-20, menjadikan perayaan ini semakin komersial dan menyebar ke berbagai negara melalui pengaruh budaya populer Barat.

Di Indonesia, Valentine mulai dikenal luas sejak 1990-an melalui media dan industri hiburan. Meski kerap menuai pro dan kontra, terutama dari sebagian kelompok yang menilai tidak selaras dengan nilai budaya atau agama tertentu, perayaan ini tetap populer di kalangan anak muda dan pelaku bisnis.

Selain pasangan, banyak pula yang merayakannya sebagai bentuk persahabatan (Galentine’s Day) atau penghargaan terhadap diri sendiri (self-love).

Tonton: Surge (WIFI), Emiten Hashim Djojohadikusumo, Bakal Garap Jaringan Internet IKN

Selanjutnya: Messi Cedera Hamstring, Inter Miami Reschedule Uji Coba vs Del Valle

Menarik Dibaca: Bisa Jadi Playlist Kencan, 7 Lagu Romantis Ini Bikin Makin Mesra

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru