KONTAN.CO.ID - Simak latar belakang hari besar setiap tanggal 14 Februari. Tanggal 14 Februari setiap tahunnya menjadi salah satu hari paling bermakna dan penuh warna di seluruh dunia, di mana perayaan cinta, literasi, konservasi alam, dan semangat juang nasional saling bertemu dalam satu tanggal yang sama.
Secara global, Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang mendominasi dengan simbol-simbol romantis seperti hati merah, Cupid, cokelat, dan bunga mawar.
Ini berakar dari kisah martir Santo Valentinus abad ke-3 dan tradisi Romawi kuno Lupercalia, sekaligus menjadi momen ekspresi kasih sayang yang masif di era digital.
Baca Juga: Apa Itu WFA untuk ASN saat Lebaran 2026? Intip Kebijakan Terbaru Pemerintah
Di sisi lain, Hari Pemberian Buku Internasional mengajak kita berbagi pengetahuan melalui donasi buku bagi anak-anak, Hari Bonobo Internasional mengingatkan pentingnya perdamaian dan pelestarian spesies kera paling dekat dengan manusia.
Sementara di Indonesia, tanggal ini juga menjadi hari bersejarah untuk mengenang Pemberontakan PETA tahun 1945 di Blitar, simbol perlawanan heroik terhadap penjajahan Jepang yang dipimpin oleh Supriyadi.
Berikut ini latar belakang hari besar setiap tanggal 14 Februari yang penuh makna.
Baca Juga: Cek Jadwal Imsak Ramadan 2026 dari Kemenag & Muhammadiyah, Sudah Dirilis!
Daftar Hari Besar 14 Februari
1. Hari Valentine (Valentine's Day)
Melansir Britannica, Hari Valentine merupakan perayaan terbesar di dunia pada tanggal 14 Februari, yang berakar dari hari raya Santo Valentinus, seorang martir Kristen abad ke-3 yang dikenal karena menentang larangan Kaisar Claudius II untuk menikahkan pasangan muda.
Secara historis, asosiasi dengan cinta romantis mulai kuat pada abad ke-14–15 di Inggris dan Prancis, dipengaruhi oleh puisi Geoffrey Chaucer serta tradisi Romawi kuno seperti Lupercalia, festival kesuburan yang melibatkan ritual penyembelihan dan pesta.
Simbol modernnya sangat ikonik: hati merah sebagai lambang kasih sayang, Cupid dengan panah asmara, cokelat sebagai hadiah manis, bunga mawar merah sebagai ungkapan cinta mendalam, serta kartu ucapan yang menjadi tradisi sejak abad ke-19 berkat revolusi percetakan massal.
Baca Juga: Peringatan 12 Februari: Ini 4 Momen Global yang Tak Banyak Diketahui!
Di era digital, perayaan ini semakin masif melalui media sosial dengan konten couple goals, single awareness, dan tren Galentine's Day yang menekankan persahabatan antar perempuan.
Di Indonesia, Hari Valentine sangat populer terutama di kalangan anak muda dan pasangan urban, meskipun sering menuai kontroversi dari sebagian kelompok yang menganggapnya sebagai pengaruh budaya Barat yang kurang sesuai dengan nilai lokal atau agama.
Banyak sekolah, kampus, kafe, mall, dan bisnis memanfaatkan momen ini dengan mengadakan event khusus, diskon besar-besaran, paket dinner romantis, atau promo bunga dan cokelat.
Baca Juga: Syarat Pendaftaran Sekolah Kedinasan Pertanian 2026, Ini Jalur & Jadwalnya
2. Hari Pemberian Buku Internasional (International Book Giving Day)
Mengutip National Today, Hari Pemberian Buku Internasional dirayakan setiap 14 Februari secara informal sejak digagas oleh penulis anak-anak Emma Perry pada tahun 2012.
Tujuannya sederhana namun sangat bermakna: mendorong orang di seluruh dunia untuk memberikan buku kepada anak-anak, khususnya di daerah yang kekurangan akses terhadap bahan bacaan berkualitas.
Melalui aksi ini, diharapkan minat baca anak meningkat, pengetahuan tersebar lebih luas, dan literasi menjadi hak setiap anak tanpa memandang latar belakang ekonomi atau geografis. Kegiatan bisa berupa donasi buku ke perpustakaan sekolah, panti asuhan, komunitas terpencil, atau bahkan membagikan buku secara langsung di jalanan.
Di Indonesia, peringatan ini sangat relevan dengan upaya nasional meningkatkan budaya baca melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN), program Indonesia Membaca, dan keberadaan ribuan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Banyak perpustakaan daerah, sekolah, komunitas baca, serta organisasi non-pemerintah mengadakan aksi donasi buku gratis, reading corner dadakan, atau sesi dongeng bersama anak-anak.
Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa akses terhadap buku adalah fondasi pendidikan dan pemberdayaan, terutama di wilayah pedesaan dan pulau terpencil yang masih kesulitan mendapatkan bahan bacaan bermutu.
Baca Juga: Berapa Hari Libur Imlek 2026? Cek Jadwalnya Sesuai SKB 3 Menteri
3. Hari Bonobo Internasional (International Bonobo Day)
Hari Bonobo Internasional diperingati setiap 14 Februari untuk menghormati Bonobo (Pan paniscus), primata yang secara genetik paling dekat dengan manusia (berbagi sekitar 98,7% DNA) dan dikenal sebagai spesies paling damai di antara kera besar.
Berbeda dengan simpanse yang sering menggunakan kekerasan, Bonobo menyelesaikan konflik melalui interaksi sosial, kontak fisik, dan perilaku kooperatif—sering disebut sebagai "hippie ape" atau "kera cinta". Spesies ini hanya hidup di hutan hujan lembab di selatan Sungai Kongo, Afrika, dan menjadi simbol perdamaian serta harmoni sosial dalam alam.
Peringatan ini digagas oleh organisasi konservasi seperti Bonobo Conservation Initiative dan African Wildlife Foundation untuk meningkatkan kesadaran global terhadap ancaman kepunahan Bonobo akibat deforestasi, perburuan liar, perdagangan daging bushmeat, dan konflik manusia-satwa.
Kegiatan peringatan biasanya meliputi edukasi online, webinar, donasi untuk perlindungan habitat, serta kampanye media sosial dengan tagar seperti #SaveBonobo atau #BonoboDay. Di Indonesia, meskipun tidak ada populasi Bonobo, hari ini menjadi kesempatan untuk mendukung konservasi global dan merefleksikan pentingnya perdamaian serta empati dalam kehidupan manusia.
Baca Juga: Batas Fidyah Puasa: Kapan Sebaiknya Bayar Sebelum Bertemu Ramadan Kembali?
4. Hari Peringatan Pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) di Indonesia
Di Indonesia, 14 Februari juga diperingati sebagai hari bersejarah terkait Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) yang terjadi pada 14 Februari 1945 di Blitar, Jawa Timur. Peristiwa ini merupakan salah satu pemberontakan terbesar dan paling terorganisir oleh tentara pribumi terhadap pendudukan Jepang selama Perang Dunia II.
Dipimpin oleh Supriyadi (yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional), para anggota PETA menyerang markas Jepang, merebut senjata, dan berusaha membebaskan diri dari penindasan serta eksploitasi tenaga kerja paksa (romusha).
Meskipun pemberontakan akhirnya ditumpas dengan keras dan banyak korban jiwa, aksi ini menjadi simbol semangat juang nasionalisme dan menginspirasi perlawanan kemerdekaan selanjutnya.
Tonton: Kelas Menengah Waspada! Pajak Konglomerat Justru Dilonggarkan
Selanjutnya: Simak! Daftar 10 Mobil Terlaris di Indonesia Januari 2026
Menarik Dibaca: IHSG Koreksi Lagi (13/2), Ini Saham LQ45 yang Menguat dan Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News