kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Lomba menjelang HUT Kemerdekaan RI, begini asal-usulnya


Jumat, 26 Juli 2019 / 11:50 WIB

 Lomba menjelang HUT Kemerdekaan RI, begini asal-usulnya

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Agustus menjadi bulan yang istimewa untuk masyarakat Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus, masyarakat akan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia.

Umumnya, masyarakat sudah terlihat sibuk sejak awal bulan Agustus. Mereka gotong royong memasang umbul-umbul di lingkungan tempat tinggalnya.

Yang paling seru dan ditunggu-tunggu masyarakat adalah lomba "17 Agustusan". Biasanya warga kampung menggelar sejumlah perlombaan seperti gebuk bantal dan panjat pinang.

Baca Juga: Cari diskon belanja akhir Juli ini, intip daftarnya, tips, dan triknya

Peserta lomba adalah seluruh warga kampung mulai dari anak-anak sampai orang tua. Biasanya, warga kampung menyelenggarakan lomba 17 Agustusan di akhir pekan.

Dikutip dari Wikipedia, Sejarawan JJ Rizal mengungkapkan bahwa ajang perlombaan 17 Agustus sudah digelar sejak HUT Indonesia ke-5.

Biasanya seksi pemuda bekerjasama dengan ketua Rukun Tetangga (RT) menjadi panitia lomba 17 Agustus. Rupanya, sejak dulu kala perlombaan yang dibuat masyarakat cukup beragam. Contohnya, lomba olaraga sepak bola, maraton, voli, untuk orang dewasa.

Lomba memasak, menyusun bunga untuk ibu-ibu, dan lomba makan kerupuk, balap karung, engrang buat anak-anak sudah dulu ada.

Barbara Hatley, Pengamat Seni dan Pertunjukan Indonesia dari Universitas Tasmania menilai lomba 17 Agustus bukanlah suatu kegiatan yang bersifat persaingan individualis. Melainkan, untuk menguatkan rasa kebersamaan masyarakat dalam menyukseskan seluruh ramgkaian kegiatan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Diskon HUT kemerdekaan hingga 74% dari 300-an pusat belanja, siapa mau?

Mengutip Kompas.com, JJ Rizal menjelaskan perlombaan (17 Agustus) merupakan acara comotan dari masa Belanda dan zaman (penjajahan) Jepang, ditambah dengan aneka lomba baru.

Hal ini dibuktikan lewat gambar-gambar masyarakat yang sudah menggelar panjat pinang di zaman kolonial Belanda.

Ada pula dokumentasi bahwa pada Maret 1942 masyarakat menggelar lomba tarik beban atau lomba kuda-kuda untuk merayakan ulang tahun Djawa Baroe.

"Jadi lomba-lomba itu persambungan dari masa sebelum kemerdekaan yang diperkaya dan diberikan isi baru untuk mengenang momen sejarah baru," katanya.

Baca Juga: Pedagang pinang sulit kerek harga meski permintaan menjulang


Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Tri

Video Pilihan


Close [X]
×