Pengertian Vulkanisme, Jenis Erupsi, Tipe Gunung yang Terbentuk serta Letusannya

Rabu, 11 Mei 2022 | 15:27 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Pengertian Vulkanisme, Jenis Erupsi, Tipe Gunung yang Terbentuk serta Letusannya

ILUSTRASI. Pengertian Vulkanisme, Jenis Erupsi, Tipe Gunung serta Letusannya. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/foc.

KONTAN.CO.ID -  Salah satu fenomena alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia, khususnya di daerah gunung berapi adalah vulkanisme. Fenomena ini memiliki pengaruh yang penting dalam keberlangsungan kehidupan makhluk hidup di bumi. 

Bersumber dari Modul Geografi Paket C, Kemendikbud Ristek, vulkanisme adalah peristiwa pembentukan gunung api yang disebabkan oleh pergerakan magma dari dalam litosfera ke lapisan yang lebih atas atau hingga permukaan bumi. 

Kuat tidaknya gerakan magma dipengaruhi oleh kedalaman dan besar dapur magma yang terdapat di lapisan bawah bumi. 

Umumnya dapur magma yang terletak jauh dari permukaan bumi atau lebih dalam memiliki daya letusan yang lebih kuat daripada dapur magma yang dangkal.

Terdapat dua bentuk gerakan magma yang berhubungan dengan fenomena vulkanisme yakni: Intrusi dan ekstrusi magma. 

Baca Juga: Daftar Makanan Ini Wajib Dihindari Penderita Jantung Agar Tetap Sehat, Apa Saja?

Instrusi dan ekstrusi magma

Instrusi magma adalah terobosan atau dorongan magma ke dalam lapisan-lapisan litosfera, namun tidak sampai ke permukaan bumi. 

Mengutip dari Modul Geografi Kelas X Kemendikbud Ristek, intrusi magma dibedakan menjadi lima kelompok berikut ini:

  • Batholit atau dapur magma.
  • Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi): Magma yang menyusup di antara dua lapisan batuan, mendatar dan pararel dengan lapisan batuan tersebut.
  • Lakolit: Magma yang menerobos di antara lapisan bumi paling atas sehingga bentuknya seperti lensa cembung.
  • Gang (korok): Merupakan batuan hasil intrusi magma yang menyusup dan membeku di sela-sela lipatan (korok).
  • Diatrema: Lubang (pipa) di antara dapur magma dan kepundan gunung api yang bentuknya seperti silinder memanjang.

Sedangkan ekstrusi merupakan proses keluarnya magma dari dalam bumi hingga ke atas permukaan bumi. Hasil dari ekstrusi magma diantaranya: 

  • Lava: Magma yang keluar sampai ke permukaan bumi dan mengalir ke permukaan bumi.
  • Lahar: Material campuran yang terdiri atas lava dengan materi-materi yang ada di permukaan bumi berupa pasir, kerikil, debu, dan lain-lain dengan air sehingga membentuk lumpur.
  • Eflata dan piroklastika: Material padat berupa bom, lapili, kerikil, dan debu vulkanik.
  • Ekhalasi atau gas: Material berupa gas asam arang seperti fumarole (sumber uap air dan zat lemas), solfatar (sumber gas belerang), dan mofet (gas asam arang).

Tipe erupsi dan bentuk gunung api

Lebih lanjut, ekstrusi identik dengan letusan atau erupsi gunung api. Erupsi tersebut dibagi menjadi dua: Erupsi efusi dan eksplosif. 

Erupsi efusif merupakan erupsi yang mengeluarkan lelehan lava melalui retakan, rekahan, atau lubang kawah gunung. 

Sedangkan erupsi eksplosif berupa ledakan dengan keluarnya material atau bahan padat (eflata/piroklastika) seperti bom, kerikil, lapili, dan debu vulkanik, bersamaan dengan gas dan fluida

Baca Juga: Mengenal Letak Geografis dan Astronomis Indonesia dan Keuntungannya

Untuk tempat keluarnya magma dibedakan menjadi tiga, diantaranya:

  • Erupsi linear: Magma keluar melalui celah atau retakan yang memanjang, sehingga membentuk deretan gunung api.
  • Erupsi areal,: Letusan yang terjadi jika letak dapur magma dekat dengan permukaan bumi, kemudian magma membakar dan melelehkan lapisan batuan yang berada di atasnya sehingga membentuk lubang yang besar di permukaan bumi.
  • Erupsi sentral: Letusan yang terjadi keluar melalui sebuah lubang yang membentuk gunung api yang terpisah-pisah.

Erupsi jenis sentral menghasilkan tiga bentuk gunung api, diantaranya:

  • Gunung api perisai (Shield Volcanoes): Gunung api yang beralas luas dan berlereng landai, merupakan hasil erupsi efusif magma yang cair, seperti gunung api di kepulauan Hawaii; Gunung Kilauea, Gunung Mauna Loa dan Gunung Mauna Kea.
  • Gunung api maar: Gunung yang terbentuk dari erupsi eksplosif yang tidak terlalu kuat dan hanya terjadi sekali saja, bentuknya hanya berupa tanggul di sekeliling kawah. Contohnya seperti Gunung Lamongan di Jawa Timur dengan kawahnya Klakah.
  • Gunung api strato atau kerucut: Hasil campuran antara letusan efusif dan eksplosif yang berulang kali. Gunung api ini berbentuk kerucut dan badannya berlapis-lapis. Gunung api di Indonesia sebagian besar merupakan gunung jenis ini, contohnya: Gunung Kerinci, Merapi, Ciremai, Semeru, Batur, Tangkuban Perahu, dan Gunung Fujiyama di Jepang.

Tipe letusan gunung api

Letusan gunung api berbeda-beda tergantung dengan kedalaman dapur magma, volume dapur magma, dan kekentalan atau viscositas magma.

Kekentalan magma sendiri tergantung dengan susunan dan tinggi suhu, semakin tinggi suhunya, maka semakin besar viscositasnya. Berikut ini tipe-tipe letusan gunung api:

  • Tipe Hawaii

Ciri-ciri dari tipe letusan gunung api ini adalah lava cair yang mengalir keluar, disebut juga letusan air mancur. Contohnya adalah Gunung Mauna Loa di Kepulauan Hawaii.

  • Tipe Stromboli

Tipe stromboli mempunyai ciri-ciri yaitu sering terjadi letusan-letusan kecil yang tidak begitu kuat, namun meletus secara terus-menerus, dan banyak mengeluarkan efflata. Contoh, Gunung Vesuvius di Italia, Gunung Raung di Jawa Timur, dan Gunung Batur di Bali.

  • Tipe Vulkano

Tipe ini merupakan tipe letusan yang umum dimiliki gunung api. Tipe ini mengeluarkan cairan magma yang kental dan dapur magma yang bervariasi dari dangkal sampai dalam, sehingga memiliki tekanan yang sedang sampai tinggi. Contohnya seperti Gunung Semeru di Jawa Timur.

Baca Juga: Minimal D3 Bisa Daftar, Cek Informasi Lowongan Kerja di Astra Honda Motor 2022 Ini

  • Tipe Perret

Tipe perret termasuk tipe letusan yang sangat merusak karena ledakan nya sangat kuat. Ciri utama tipe ini ialah letusan berbentuk tiang ke atas, gas yang sangat tinggi, dan dihiasi oleh awan menyerupai bunga kol di ujungnya.

Contohnya adalah letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang merupakan tipe perret dengan letusan paling kuat dengan fase gas setinggi 50 km. Saking kuatnya letusan, puncak gunung menjadi tenggelam dan dinding kawah merosot lalu membentuk sebuah kaldera.

  • Tipe Merapi

Tipe ini memiliki ciri khas lava kental yang mengalir keluar perlahan-lahan dan membentuk sumbat kawah. Karena tekanan gas dari dalam semakin kuat, maka kawah tersebut terangkat dan bagian luarnya pecah atau merekah disertai awan panas yang membahayakan penduduk sekitar gunung api.

  • Tipe St. Vincent dan Mt. Pelle

Tipe letusan gunung selanjutnya adalah St. Vincent dengan ciri lava yang kental, tekanan gas sedang, dan dapur magma yang dangkal. Contohnya seperti Gunung Kelud dan St. Vincent.
Sedangkan tipe Mt. Pelle memiliki ciri lava kental, tekanan gas tinggi, dan dapur magma yang dalam. Contohnya adalah letusan di Gunung Montagne Pelee di Amerika Tengah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru