Profil Buya Syafii Maarif, Mantan Ketua PP Muhammadiyah yang Selalu Bersahaja

Sabtu, 28 Mei 2022 | 08:00 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Profil Buya Syafii Maarif, Mantan Ketua PP Muhammadiyah yang Selalu Bersahaja


KONTAN.CO.ID -  Indonesia kembali berduka setelah salah satu guru bangsa, Buya Syafii Maarif, wafat pada Jumat pagi (27/5) pukul 10.15 WIB di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta pada usia 86 tahun.

Bersumber dari situs resmi Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif, nama asli Buya Syafii Maarif, merupakan salah satu tokoh penting Muhammadiyah yang dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia. 

Meskipun masyarakat hingga tokoh-tokoh penting Indonesia menaruh hormat kepadanya, Buya Syafii Maarif tetap bersahaja dan sederhana. 

Beberapa kali beliau tertangkap kamera tengah membeli barang-barang kebutuhan pokok di warung dan gemar mengayuh sepeda.

Baca Juga: Lowongan Kerja di Mistsubishi Motors 2022, Fresh Graduate Bisa Daftar

Profil singkat Buya Syafii Maarif

Syafii Maarif lahir pada 31 Mei 1935 di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau. Ayah beliau merupakan kepala suku dan saudagar bernama Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu. Ibunda beliau, Fathiyah, wafat ketika Syafii baru berusia 18 bulan.

Saat masih kecil, Syafii Maarif bersekolah di Sekolah Rakyat (SR). Sedangkan untuk belajar agama, dia mengambil dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah sepulang sekolah di SR. 

Pada 1947 beliau menamatkan SR namun tanpa ijazah karena pada saat itu masih terjadi perang revolusi kemerdekaan Indonesia.

Setelah tamat dari pembelajaran di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Balai Tangah, Lintau, Syafii yang saat itu berusia 19 tahun pada 1953 merantau ke Yogyakarta. 

Mengutip dari situs Muhammadiyah, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Muallimin Yogyakarta sampai tahun 1956. 

Saat menjalani pendidikan di Muallimin, Buya Syafii aktif dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Sinar.

Menginjak usia 21 tahun, Syafii berangkat ke Lombok memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah dari Lombok untuk menjadi guru di sebuah kampung bernama Pohgading sampai tahun 1957. 

Kemudian Buya Syafii melanjutkan pendidikan ke Universitas Cokroaminoto, Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKIP UNY, Universitas Ohio Amerika Serikat hingga Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Baca Juga: Mengenal Ragam Jenis Sistem Kekebalan Tubuh Manusia serta Cara Kerjanya

Buya Syafii Maarif menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah selama tujuh tahun dari 1998-2005. Beliau juga pernah menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).

Setelah mengabdi sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, beliau aktif dalam komunitas Maarif Institute dan menjadi tokoh bangsa yang sering menyampaikan kritik secara objektif dan lugas baik melalui tulisan-tulisannya di berbagai media.

Buya Syafii Maarif mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina atas karya-karyanya, pada tahun 2008. 

Penulis Damiem Demantra membuat sebuah novel tentang masa kecil Ahmad Syafi’i Maarif, yang berjudul ‘Si Anak Kampung’ yang telah difilmkan dan meraih penghargaan pada America International Film Festival (AIFF).

Sebelum wafat, Buya Syafii masuk ke rumah sakit itu sejak Sabtu, 14 Mei 2022 karena mengeluh sesak napas akibat jantung. 

Pada awal Maret lalu, Buya Syafii juga sempat menjalani perawatan medis di RS PKU Gamping. Saat itu, Buya hampir dua pekan menjalani perawatan sampai kondisinya membaik dan diperkenankan untuk pulang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru