KONTAN.CO.ID - Mengenal Greenland sebagai pulau terbesar di wilayah Samudra Atlantik. Greenland sering kali membingungkan banyak orang karena lokasinya yang dekat dengan Amerika Utara.
Secara politik, Greenland bukan negara merdeka melainkan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark (Kingdom of Denmark).
Pulau terbesar di dunia ini memiliki luas sekitar 2,166 juta km², dengan 80% tertutup es permanen, dan populasi hanya sekitar 56.000 jiwa, mayoritas Inuit.
Meski secara geografis bagian dari benua Amerika Utara, Greenland telah terkait secara politik dan budaya dengan Eropa sejak abad ke-10 melalui pemukim Viking Norwegia dan kemudian kolonisasi Denmark pada abad ke-18.
Baca Juga: Peringatan Hari Besar 8 Januari: Hari Rotasi Bumi hingga World Typing Day
Sejarah Greenland
Melansir dari laman Britannica, sejarahnya dimulai dari pemukim Inuit ribuan tahun lalu, diikuti Viking pada abad ke-10, hingga menjadi koloni Denmark pada 1721.
Status berubah pada 1953 menjadi bagian integral Kerajaan Denmark, dengan Home Rule pada 1979 dan Self-Government Act pada 2009 yang memberikan otonomi luas.
Greenland mengurus urusan dalam negeri seperti pendidikan, kesehatan, dan sumber daya alam, sementara Denmark bertanggung jawab atas pertahanan, kebijakan luar negeri, dan mata uang (Krone Denmark).
Penduduk Greenland adalah warga negara Denmark dan UE (meski Greenland keluar dari EEC pada 1985).
Baca Juga: Libur Panjang Januari–Maret 2026: Manfaatkan Hari Libur Efektif Tanpa Cuti
Mengapa Greenland Strategis?
Greenland kaya mineral langka (rare earth elements) yang vital untuk teknologi hijau, serta potensi minyak dan gas.
Lokasinya di Arktik membuatnya kunci untuk rute pelayaran baru akibat mencairnya es, serta pertahanan militer. AS sudah memiliki Pituffik Space Base (dulu Thule Air Base) sejak Perang Dingin, untuk pemantauan rudal dan satelit.
Pada Januari 2026, isu Greenland memanas kembali karena Presiden AS Donald Trump yang kembali berkuasa sejak 2025, menyatakan keinginan kuat untuk menguasai Greenland.
Trump menyebutnya esensial untuk "keamanan nasional" AS, mengklaim ada ancaman dari kapal Rusia dan China di sekitar Arktik. Ia bahkan tidak menutup kemungkinan penggunaan militer, meski asistennya seperti Stephen Miller dan Marco Rubio menekankan opsi pembelian dulu.
Baca Juga: Mata Uang Bolivar Venezuela: Dari Stabil hingga Menjadi Salah Satu Terlemah Sedunia
Isu Lama yang Berkembang
Trump pertama kali mengusulkan membeli Greenland pada 2019, tetapi ditolak Denmark. Kini, pasca-intervensi AS di Venezuela, Trump menunjuk utusan khusus dan mengancam aneksasi, memicu reaksi keras.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyebutnya "fantasi" dan ancaman terhadap NATO (karena serangan ke Greenland bisa aktifkan Article 5).
Pemimpin Greenland Jens-Frederik Nielsen menolak, sambil dukung kemerdekaan dari Denmark tapi bukan bergabung AS. Pemimpin Eropa seperti dari Prancis, Jerman, dan Inggris bersatu dukung Denmark, menyatakan "Greenland milik rakyatnya".
Baca Juga: Apa Arti Living Together yang Ramai di Media Sosial? Ini Kaitan dengan KUHP Baru
Survei menunjukkan mayoritas warga Greenland ingin independen dari Denmark, tetapi menentang jadi bagian AS.
Denmark meningkatkan investasi pertahanan Arktik untuk meredam tekanan.Kontroversi ini menyoroti perebutan Arktik di tengah perubahan iklim dan persaingan global.
Meski AS punya basis militer, pengambilalihan paksa bisa rusak aliansi NATO.
Itulah informasi menarik terkait pulau terbesar di wilayah Samudra Atlantik.
Tonton: Ada Konflik AS-Vanezuela, Istana Pastikan Negosiasi Tarif Tetap Dilakukan Pekan Depan
Selanjutnya: Rupiah Melemah Rabu (7/1) Siang, Investor Menghindar Jelang Rilis Data Ekonomi AS
Menarik Dibaca: Promo Holland Bakery Diskon Spesial 20% untuk Menu Baru
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News