KONTAN.CO.ID - Simak profil mata uang Venezuela yang menjadi terendah di dunia. Negara Amerika Selatan ini tengah menjadi sorotan setelah penyanderaan Presiden Maduro oleh Amerika Serikat.
Venezuela dalam tekanan pasca ketiadaan pemimpin awal tahun 2026. Hal ini termasuk memperburuk nilai mata uang dari Venezuela yakni Bolívar Soberano (VES)/
Bolívar sering disebut sebagai mata uang dengan sejarah inflasi tertinggi, di mana puncaknya pada 2018 mencapai jutaan persen, membuat uang kertas hampir tak bernilai. Akibatnya, warga Venezuela banyak beralih ke dolar AS atau cryptocurrency untuk transaksi harian.
Bahkan, dengan nilai tukar resmi mencapai sekitar 300-301 bolívar per dolar AS. Devaluasi drastis ini mencerminkan krisis hiperinflasi yang berkepanjangan di negara kaya minyak tersebut.
Baca Juga: Sejarah Mata Uang Yen Jepang: Fase Modernisasi hingga Lewati Krisis Global
Melansir dari Investopedia, pada akhir 2025 hingga awal 2026, bolívar mengalami penurunan nilai hingga hampir 480% terhadap dolar AS, dipicu oleh sanksi internasional yang semakin ketat dan ketidakstabilan ekonomi internal.
Pasar gelap menunjukkan nilai yang lebih rendah lagi, dengan dolar diperdagangkan hingga 560 bolívar.
Faktor utama melemahnya bolívar meliputi ketergantungan berlebih pada ekspor minyak, sanksi AS yang membatasi akses devisa, korupsi sistemik di sektor energi, serta kebijakan moneter yang gagal mengendalikan pengeluaran pemerintah.
Lalu, seperti apa sejarah dari salah satu mata uang terlemah di dunia ini? Cek informasi menarik selengkapnya.
Baca Juga: Daftar Negara yang Memakai Dolar AS sebagai Mata Uang Resmi
Sejarah dan Penyebab Krisis Ekonomi
Sejarah bolívar mencerminkan tragedi ekonomi Venezuela modern. Mata uang bolívar resmi Venezuela dinamai dari Simón Bolívar, pahlawan kemerdekaan Amerika Latin. Diperkenalkan pada 31 Maret 1879 oleh Presiden Antonio Guzmán Blanco melalui Undang-Undang Moneter, menggantikan mata uang sebelumnya yaitu venezolano (dengan rasio 5 bolívar = 1 venezolano).
Awalnya, bolívar berbasis standar perak (setara 4,5 gram perak murni), mengikuti prinsip Uni Moneter Latin. Pada 1887, bolívar emas menjadi alat pembayaran sah tanpa batas, dan standar emas sepenuhnya berlaku pada 1910.
Venezuela meninggalkan standar emas pada 1930, lalu mematok nilai bolívar terhadap dolar AS pada 1934 (sekitar 3,914 bolívar = 1 USD). Hingga 1983 (dikenal sebagai "Viernes Negro"), bolívar termasuk mata uang paling stabil di Amerika Latin.
Selama lebih dari satu abad, bolívar relatif stabil berkat cadangan minyak Venezuela. Namun, mulai akhir abad ke-20, inflasi tinggi muncul akibat ketergantungan pada minyak, mismanajemen ekonomi, dan faktor politik.
Baca Juga: Mengenal Mata Uang Dong Vietnam, Sejarah, dan Perkembangan Saat Ini
Era Modern
Pada 2008, pemerintah Hugo Chávez melakukan redenominasi pertama: menghapus 3 nol dan memperkenalkan bolívar fuerte (VEF) untuk menyederhanakan transaksi.
Krisis memburuk di era Nicolás Maduro. Hiperinflasi mencapai puncaknya pada 2018 (lebih dari 1 juta persen), membuat uang kertas tak bernilai dan warga menumpuk tumpukan uang untuk belanja sederhana. Pada 20 Agustus 2018, redenominasi kedua menghapus 5 nol, memperkenalkan bolívar soberano (VES).
Pada 1 Oktober 2021, redenominasi ketiga menghapus 6 nol lagi, menciptakan bolívar digital (meski tetap ada bentuk fisik). Total, sejak 1879, bolívar telah kehilangan 14 nol melalui redenominasi. Saat ini (awal 2026), bolívar tetap sangat lemah, dengan nilai tukar resmi sekitar 300 bolívar per dolar AS, dan banyak transaksi sehari-hari menggunakan dolar AS atau cryptocurrency.
Produksi minyak, sumber pendapatan utama, runtuh signifikan akibat nasionalisasi industri dan mismanajemen di perusahaan negara PDVSA. Sanksi internasional semakin memperburuk situasi, membatasi cadangan devisa yang dapat digunakan.
Akibatnya, jutaan warga mengungsi, menghadapi kelangkaan barang dasar, dan erosi daya beli yang ekstrem, menjadikan Venezuela contoh klasik kegagalan kebijakan ekonomi populis.
Baca Juga: Mengenal Sejarah Mata Uang Jerman, Fase Deutsche Mark, hingga Menjadi Euro
Dampak Peristiwa Politik Terbaru
Melansir dari Reuters, termasuk eskalasi sanksi dan ketegangan internasional pada awal 2026, telah mempercepat devaluasi bolívar. Vakum kepemimpinan potensial dan ketidakpastian transisi kekuasaan berisiko memperburuk hiperinflasi serta kekurangan barang esensial.
Di sisi lain, analis melihat peluang reformasi jika terjadi perubahan rezim yang membawa investasi asing dan pencabutan sanksi.
Namun, tanpa perbaikan struktural mendalam, bolívar berisiko tetap menjadi simbol kegagalan ekonomi.
Krisis bolívar mengingatkan dunia akan bahaya kebijakan tanpa dasar kuat, di mana faktor politik dan ekonomi saling memperburuk, berpotensi menciptakan titik balik atau kekacauan lebih lanjut di Venezuela.
Demikian informasi mengenai profil mata uang Venezuela yang menjadi terendah di dunia.
Tonton: Presiden Venezuela Maduro Ditahan AS di Penjara Kumuh Rawan Penusukan
Selanjutnya: 5 Rekomendasi Laptop Gaming untuk Tahun 2026, Harga di Bawah Rp 20 Juta
Menarik Dibaca: Oppo Reno15 HP RAM Besar Mulai 12 GB hingga 16 GB, Bikin Konten Video 4K Jadi Lancar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News