KONTAN.CO.ID - Simak sejarah tradisi halal bihalal momen Lebaran di Indonesia. Tradisi halal bihalal merupakan salah satu ciri khas perayaan Idulfitri di Indonesia yang tidak ditemukan dalam praktik keagamaan di negara lain.
Kegiatan ini identik dengan saling bermaafan, bersilaturahmi, dan mempererat hubungan antarsesama setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.
Namun, di balik tradisi yang sudah sangat membudaya ini, terdapat sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.
Baca Juga: Cek Jadwal Libur April 2026: Jangan Sampai Lewatkan Cuti Penting Ini!
Asal Usul Istilah Halal Bihalal
Melansir Kemenko PMK, istilah “halal bihalal” berasal dari kata “halal” yang berarti melepaskan, mencairkan, atau mengizinkan.
Dalam konteks sosial, halal bihalal dimaknai sebagai upaya mencairkan hubungan yang sempat renggang akibat kesalahan atau konflik.
Menariknya, istilah ini bukan berasal dari bahasa Arab baku yang umum digunakan dalam literatur Islam, melainkan berkembang secara khas di Indonesia sebagai hasil adaptasi budaya lokal dengan nilai-nilai keislaman.
Baca Juga: Bukan Mudik Lebaran Indonesia, Ini Fenomena Pulang Kampung Terbesar di Dunia
Sejarah Halal Bihalal di Indonesia
Melansir laman NU Online, halal bihalal sering dikaitkan dengan peran ulama dan tokoh bangsa pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Salah satu tokoh penting yang disebut dalam sejarah ini adalah KH Wahab Chasbullah, seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama.
Pada sekitar tahun 1948, Indonesia sedang menghadapi situasi politik yang tidak stabil, dengan banyak konflik di kalangan elite pemerintahan.
Presiden Soekarno saat itu meminta saran kepada KH Wahab Chasbullah untuk mencari cara meredakan ketegangan.
Baca Juga: Ada Apa Setiap 19 Maret? Ini 3 Hari Besar Dunia yang Menarik Perhatian
KH Wahab Chasbullah kemudian mengusulkan konsep “halal bihalal” sebagai forum silaturahmi nasional.
Para tokoh politik diundang dalam satu acara untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan. Ide ini diterima dan kemudian diwujudkan dalam sebuah pertemuan resmi di Istana Negara.
Sejak saat itu, halal bihalal menjadi tradisi yang terus dilestarikan, tidak hanya di lingkungan pemerintahan, tetapi juga di masyarakat luas.
Baca Juga: Daftar Ruas Jalan Tol Gratis Mudik Lebaran 2026, Dari Jawa Hingga Sumatra
Perkembangan Tradisi Halal Bihalal
Seiring waktu, halal bihalal berkembang menjadi tradisi sosial yang dilakukan di berbagai tempat, seperti:
- Lingkungan keluarga besar
- Instansi pemerintah dan perusahaan
- Sekolah dan kampus
- Organisasi masyarakat
Biasanya acara ini diisi dengan sambutan, tausiah, doa bersama, dan diakhiri dengan saling bersalaman sebagai simbol saling memaafkan.
Makna dan Nilai Halal Bihalal
Halal bihalal tidak sekadar formalitas, tetapi memiliki makna mendalam, antara lain:
- Mempererat silaturahmi setelah Ramadan
- Menghapus kesalahan dan membuka lembaran baru
- Membangun persatuan di tengah perbedaan
- Menumbuhkan nilai saling menghargai dan toleransi
Tradisi ini juga mencerminkan kearifan lokal Indonesia yang mampu memadukan ajaran agama dengan budaya sosial.
Halal bihalal adalah tradisi unik Indonesia yang lahir dari kebutuhan akan persatuan dan keharmonisan sosial. Berawal dari inisiatif tokoh bangsa di masa sulit, kini halal bihalal menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri.
Lebih dari sekadar acara, halal bihalal adalah simbol rekonsiliasi, kebersamaan, dan semangat untuk saling memaafkan demi kehidupan yang lebih damai.
Tonton: Rekor Baru! Harga Bensin AS Tembus $3,75, Konsumen Menjerit
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News