Sejarah Kesuksesan Starbucks, dari Kedai Kecil Jadi Raksasa Franchise Minuman Dunia

Kamis, 22 September 2022 | 11:16 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Sejarah Kesuksesan Starbucks, dari Kedai Kecil Jadi Raksasa Franchise Minuman Dunia

ILUSTRASI. Sejarah Kesuksesan Starbucks, dari Kedai Kecil Jadi Raksasa Franchise Minuman Dunia . REUTERS/Carlo Allegri


KONTAN.CO.ID -   Tahukah Anda bahwa pada awalnya Starbucks adalah sebuah kedai kecil di Amerika Serikat? Siapa yang menyangka jika dengan menjual kopi, kedai kecil tersebut bisa menjadi waralaba minuman terbesar di dunia.

Bermula dari kedai kopi kecil, Starbucks Coffee berkembang menjadi raksasa franchise minuman yang memilki cabang di seluruh negara di dunia. 

Contohnya saja di Indonesia. Anda pasti sering menjumpai gerai Starbucks di berbagai kota di Indonesia.

Setiap harinya, franchise kopi asal Amerika Serikat ini penuh dengan pelanggan. Selain kopi yang menjadi andalannya, Starbucks juga menawarkan berbagai macam minuman dan makanan yang menjadi favorit masyarakat. 

Baca Juga: Lowongan di Anak Usaha BUMN Brantas Abipraya Masih Dibuka, Ini Syarat Daftarnya

Selain minuman dan makanannya yang lezat, gerai kopi terkenal ini kerap memberikan promo yang menarik sehingga banyak pelanggan terus berdatangan. 

Masyarakat, khususnya dari kalangan anak muda, sering berkunjung ke Starbucks dan mencoba berbagai resep rahasia atau secret recipe yang dibagikan oleh influencers.

Logo pertama Starbucks

Sejarah berdirinya Starbucks

Sebelum sebesar sekarang, ada sejarah panjang yang menyertai jatuh bangunnya Starbucks.

Gerai kopi ini pertama kali didirikan oleh tiga orang laki-laki. Jerry Baldwin, Gordon Bowker, dan Zev Seigl membuka gerai Starbucks pertama di tahun 1971. 

Dikutip dari Encyclopedia Britannica, gerai ini terletak di Pike Place Market di Seattle, Amerika Serikat. 

Kegemaran akan teh dan kopi serta latar belakang guru, membuat mereka sepakat mendirikan Starbucks yang merupakan kedai kopi. 

Nama Starbucks sendiri diambil dari nama tokoh di novel Moby Dick. Moby Dick adalah novel klasik karya Herman Melville yang terbit tahun 1851. 

Di tahun 1980, Seigl memutuskan untuk keluar dari Starbucks. Baldwin kemudian menjabat sebagai presiden dari Starbucks.

Titik balik Starbucks

Pada tahun 1981, Howard Schultz, seorang sales peralatan dapur mengunjungi gerai Starbucks. Schultz kemudian terpesona dengan gerai kopi ini dan memutuskan bekerja di Starucks.

Bersumber dari laman resmi Starbucks, Schultz menjadi direktur marketing dan operasional retail Starbucks. 

Howard Schultz mulai bekerja di Starbucks pada tahun 1982. Ia bertugas untuk meningkatkan penjualan dengan berbagai strategi marketing

Baca Juga: Cara Cek BSU Tahap 2 di Kemnaker dan BPJS Ketenagakerjaan yang Sebentar Lagi Cair

Schultz mengajarkan skill sales pada pegawai agar pelayanan lebih baik. Tidak hanya mengajarkan kemampuan sales, dia juga membuat brosur agar pelanggan lebih mudah mempelajari produk Starbucks. 

Tahun 1983, Schultz mengunjungi Italia untuk menghadiri sebuah pameran. Ia terkagum-kagum dengan cafe yang ada di negara tersebut. 

Schultz ingin Starbucks menggunakan konsep cafe yang ada di Italia. Namun gagasan ini ditolak oleh Baldwin dan Bowker. 

Berpindah kepemilikan

Melihat kesempatan yang kecil, Schultz memutuskan keluar dari Starbucks tahun 1985. Di tahun yang sama ia membuka gerai kopi bernama II Giornale. 

Gerai ini populer dalam waktu singkat dan banyak digemari masyarakat pada saat itu. Pada Maret 1987, Starbucks dijual oleh Baldwin dan Bowker. 

Starbucks kemudian dibeli oleh Schultz. Dengan segera ia menggabungkan merek Starbucks dengan konsep cafe. 

Setelah dibuka pada 1992, Starbucks langsung digemari banyak orang. Di awal abad ke 21 ini, Starucks berhasil membuka lebih dari 30,000 lebih gerai di seluruh dunia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru