Subak, sistem irigasi kuno di Bali sejak abad ke-11

Rabu, 18 November 2020 | 10:52 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
Subak, sistem irigasi kuno di Bali sejak abad ke-11

ILUSTRASI. Petani berupaya mempertahankan eksistensi Subak beserta budaya pertaniannya untuk bisa menopang pariwisata di daerah itu. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nym/nz


KONTAN.CO.ID - Bali tak hanya terkenal akan keindahan pantai-nya saja melainkan juga sistem irigasi tradisional bernama subak. 

Subak adalah organisasi masyarakat yang mengatur khusus siatem irigasi kuno untuk mengairi sawah di Pulau Bali.  

Dirangkum dari portal informasi Indonesia, sistem subak ini mewakili budaya Bali yang berbasis pertanian, khususnya, pertanian lahan basah yaitu padi. 

Di subak, tecermin budaya gotong-royong, pelestarian lingkungan, pengetahuan musim, angin, dan pengendalian hama.

Baca Juga: 9 Situs warisan dunia UNESCO di indonesia dari taman nasional hingga kompleks candi

Setiap petani biasanya memiliki satu atau lebih sawah dan menjadi kewajiban bagi mereka untuk bergabung dengan komunitas subak. 

Komunitas subak beranggotakan masyarakat pertanian yang mengontrol distribusi air irigasi kepada anggotanya. Subak diatur oleh seorang pemuka adat yang disebut pekaseh dan biasanya juga berprofesi sebagai petani.

Selain itu, subak adalah salah satu manifestasi Tri Hita Karana, yaitu filosofi Hindu Bali dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Pencipta.

Baca Juga: Indonesia Menjadi Guest of Honor dalam Festival Budaya di Riyadh

Warisan budaya dunia

Subak bisa terlihat dalam area persawahan hijau berundak-undak yang mempesona atau dikenal dengan sawah terasering.

Terasering adalah salah satu metode dalam manajemen pertanian yang dibuat untuk menyiasati lahan di daerah berkontur tanah ekstrem seperti dataran tinggi dan lereng gunung. 

Dengan membuat terasering, air dari ketinggian diharapkan akan mengalir dengan kecepatan dan volume yang selalu terkendali.

Ada beberapa daerah di Bali yang terkenal dengan sawah teraseringnya, seperti di Desa Tegalalang, Desa Blimbing, dan Desa Jatiluwih. 

Baca Juga: Hotel Trump bisa sebabkan krisis air di Bali

Meski menjalankan sistem irigasi sejenis, ada yang membedakan antara persawahan terasering Tegalalang, Pupuan, dan Jatiluwih. Menurut penulis buku "Subak: Sistem Irigasi Tradisional di Bali", I Gde Pitana, ada beberapa unsur penting yang membedakannya.

Persawahan Jatiluwih masih menjalankan subak dengan pola asli, yaitu tanpa adanya bangunan beton pada aliran irigasinya. Kemudian, padi bali merah adalah varietas lokal yang masih dipertahankan untuk ditanam di persawahan Jatiluwih.

Petani setempat juga masih menjaga estetika menanam padi di lahan terasering agar tetap menghasilkan pemandangan indah hijaunya persawahan bersistem subak.

Pada 20 Juni 2012, subak ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB, Unesco. 

Selanjutnya: Jokowi dan Obama ditemani teh hangat serta bakso

 

 

 

 

Editor: Virdita Ratriani


Terbaru