Apa Itu Resesi dan Contohnya? Berikut Penyebab dan Dampak Resesi

Kamis, 06 Oktober 2022 | 08:23 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
Apa Itu Resesi dan Contohnya? Berikut Penyebab dan Dampak Resesi

ILUSTRASI. Ilustrasi Resesi dan contohnya, dampak resesi, penyebab resesi.


KONTAN.CO.ID - Resesi adalah kelesuan dalam kegiatan dagang, industri, dan sebagainya sehingga seolah-olah terhenti. Resesi juga bisa diartikan sebagai menurunnya atau mundurnya, berkurangnya kegiatan dagang (industri). 

Sementara resesi ekonomi adalah kelesuan ekonomi. Pengertian resesi tersebut berasal dari Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI.

Sedangkan secara sederhana resesi adalah suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara sedang memburuk yang terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang negatif, pengangguran meningkat, maupun pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut. 

Baca Juga: Inilah Rekomendasi Saham Pilihan yang Tahan Dari Isu Ancaman Resesi Global

Resesi adalah kata yang dalam beberapa waktu ini ramai diperbincangkan. Dikutip dari Kompas.com (4/10/2022), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengatakan, resesi global hampir dipastikan akan terjadi. 

"Setidaknya di tahun 2023. Kalau tidak, lebih cepat dari itu," kata dia dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan secara virtual. Di sisi lain, dia menuturkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dan 2023 masih berada pada kisaran 5%. 

Lantas, apa contoh resesi, penyebab resesi, dan dampak resesi? 

Baca Juga: Rupiah Berpeluang Melemah Pada Kamis (6/10), Simak Sentimen yang Membayangi

Contoh resesi 

Dikutip dari Kompas TV, Indonesia pernah mengalami resesi pada 2020. Contoh resesi di Indonesia pada waktu adalah pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2022 mengalami minus 5,32 persen. 

Lalu di kuartal III juga minus 3,49 persen jika dibanding periode yang sama tahun lalu. Kemudian pada kuartal III pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 2,19 persen. 

Masuk di kuartal I 2021, Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia minus 0,74 persen sepanjang periode Januari hingga Maret 2021.  Namun, akhirnya Indonesia berhasil keluar dari resesi dengan ekonomi kuartal II 2021 berhasil tumbuh 7 persen. 

Dikutip dari Indonesia Baik, dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 25,10 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 31,78 persen.

Baca Juga: Reli 2 Hari Terhenti, Wall Street Terseret Data Tenaga Kerja AS

Penyebab resesi

Dirangkum dari laman Forbes, beberapa penyebab resesi antara lain: 

1. Guncangan ekonomi yang tiba-tiba 

Pandemi virus corona yang mematikan ekonomi di seluruh dunia, adalah contoh yang lebih baru dari goncangan ekonomi yang tiba-tiba. 

2. Utang yang berlebihan 

Ketika individu atau bisnis mengambil terlalu banyak utang, biaya untuk melunasinya dapat tumbuh ke titik di mana mereka tidak dapat membayar tagihan mereka. Terjadinya gagal bayar utang dan kebangkrutan kemudian membalikkan kondisi perekonomian. 

3. Gelembung aset 

Investasi berlebihan di pasar saham atau real estate diibaratkan seperti gelembung yang membesar. Ketika gelembung itu meletus, terjadi penjualan dadakan yang dapat menghancurkan pasar dan menyebabkan resesi. 

Baca Juga: Simak Saham-Saham Jagoan Analis Untuk Hari ini

4. Terlalu banyak inflasi 

Inflasi adalah tren harga yang stabil dan naik seiring waktu. Inflasi bukanlah hal yang buruk, tetapi inflasi yang berlebihan adalah fenomena yang berbahaya. 

5. Terlalu banyak deflasi 

Deflasi adalah ketika harga turun dari waktu ke waktu, yang menyebabkan upah berkontraksi, yang selanjutnya menekan harga. Ketika siklus deflasi tidak terkendali, orang-orang dan bisnis berhenti belanja, yang akibatnya merongrong perekonomian. 

6. Perubahan teknologi 

Saat ini, beberapa ekonom khawatir bahwa Artificial Inteligence (AI) dan robot dapat menyebabkan resesi. Hal ini dikhawatirkan terjadi bila mereka mampu mengerjakan semua kategori pekerjaan manusia.

Baca Juga: Efek Kenaikan Harga BBM ke Inflasi Lebih Rendah dari Proyeksi Pemerintah

Dampak resesi 

Dirangkum dari laman resmi Otoritas Jasa Keuangan dan Gramedia, dampak resesi adalah sebagai berikut: 

  • Perlambatan ekonomi akan membuat sektor riil menahan kapasitas produksinya sehingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan sering terjadi bahkan beberapa perusahaan mungkin menutup dan tidak lagi beroperasi.
  • Kinerja instrumen investasi akan mengalami penurunan sehingga investor cenderung menempatkan dananya pada bentuk investasi yang aman.
  • Ekonomi yang semakin sulit pasti berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat karena mereka akan lebih selektif menggunakan uangnya dengan fokus pemenuhan kebutuhan terlebih dahulu sehingga dapat membuat daya beli menurun. 
  • Pinjaman pemerintah juga akan melonjak tinggi sebab Pemerintah di setiap negara pasti membutuhkan dana yang cukup untuk membiayai berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan upaya pembangunan negara.
  • Sumber pendapatan negara yang berasal dari pajak dan nonpajak juga menjadi sangat rendah, sebab saat resesi pekerja menerima penghasilan lebih rendah, sehingga pemerintah menerima pajak penghasilan yang lebih rendah. 
  • Harga properti lebih rendah sehingga perolehan pajak dari jual beli properti tersebut lebih rendah, pengeluaran masyarakat juga cenderung lebih rendah, sehingga berpengaruh pada pendapatan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) yang lebih rendah pula.

Demikian penjelasan mengenai apa itu resesi dan contohnya, dampak resesi, serta penyebab resesi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Virdita Ratriani

Terbaru