kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Begini cara burung menavigasi arah haluan angin


Minggu, 21 Juli 2019 / 06:05 WIB

Begini cara burung menavigasi arah haluan angin

KONTAN.CO.ID - Ketika pilot bergantung dengan sinyal radio, mesin penghitung modern, dan peralatan lainnya untuk membuat mereka tetap dalam haluan angin yang kuat, burung dapat secara alami membuat navigasi kondisi sekitar dengan jarak penglihatan yang terbatas.

Untuk mengerti bagaimana hal tersebut bisa terjadi, David lentink dan rekan-rekannya di teknik mesin Universitas Stanford melakukan penelitian burung Lovebird yang diterbangkan menembus arah angin yang berlawanan. Hasilnya, Lovebird dapat menyesuaikan angin dan mengatur pencahayaan.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Proceedingof the National Academy of Science. Diharapkan hasil penelitian ini dapat lebih menginspirasi dan mengefisiensi pengendalian algoritma visual untuk robot udara.

Baca Juga: Pesawat generasi baru Airbus kini punya sayap yang bisa mengepak  

Ini adalah penelitian pertama tentang bagaimana burung menyesuaikan tubuh, leher, dan kepala mereka ketika terbang dalam jangka pendek dengan kondisi 45 derajat melawan angin. Dalam situasi lingkungan yang terang dan gelap, gua dengan pencahayaan yang redup, Lovebird menavigasi lingkungan sekitar dengan baik.

Para peneliti menemukan bahwa Lovebird melakukan navigasi dengan cara menyeimbangkan dan memperbaiki pandangan mereka dalam sarang, Lovebird mengembangkan tubuh mereka ke dalam haluan angin. Sehingga, dalam perjalanan Lovebird hanya membutuhkan untuk meliukkan leher mereka 30 derajat atau lebih.

Model simulasi komputer menunjukkan ketika Lovebird mengendalikan lehernya, badan burung reorientasi ke dalam angin adalah pencapaian pasif.

Letink mengatakan pesawat mempunyai ekor vertikal agar stabil di dalam angin. "Kami menemukan alasan burung tidak membutuhkan satu : mengepakkan sayapnya tidak hanya memberikan tenaga, Lovebird menghadap ke angin secara pasif seperti bali-baling cuaca," tambah Letink.

Baca Juga: Keberadaan burung garuda kembali ditemukan

Kathy Dickson, Program Officer National Science Foundation, Devision of Integrative Organismal System menambahkan penelitian integratif ini digunakan untuk kemajuan inovasi teknologi dalam penelitian pergerakan hewan dari pengendalian kondisi dalam laboratorium ke ladang, di mana kondisi ladang tidak tetap dan aliran yang berselang-seling yang tidak biasanya.

Penelitian ini memberikan wawasan yang tidak terduga tentang bagaimana burung menyesuaikan tubuhnya ketika menghadapi angin dan menavigasi aliran udara yang tidak stabil saat malam hari dengan tanda visual yang terbatas.

Sumber : National Science Foundation

 

 


Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Tri

Video Pilihan

Terpopuler

Close [X]
×