KONTAN.CO.ID - Mengenal apa itu produk White Label dalam industri modern. Istilah muncul seiring dengan pernyataan Menteri UMKM maman abdurrahman di akhir tahun 2025 lalu soal pembatasan produk impor White Label yang mengancam industri dalam negeri.
Dalam dunia bisnis modern, terutama di era e-commerce dan startup, istilah white label semakin populer sebagai strategi cerdas untuk meluncurkan produk dengan cepat dan modal relatif minim.
Lalu, apa sebenarnya produk White Label? Intip penjelasan selengkapnya.
Baca Juga: Ini Alasan ICE Jadi Sorotan Dunia di Awal 2026, Apa Itu ICE Amerika Serikat?
Pengertian Produk White Label
Mengutip Investopedia, White label product (produk white label) adalah barang atau layanan yang diproduksi oleh satu perusahaan (produsen atau manufacturer), tetapi dijual kembali oleh perusahaan lain dengan merek, logo, kemasan, dan identitas brand sendiri seolah-olah produk tersebut dibuat oleh penjual tersebut.
Istilah "white label" berasal dari praktik lama di mana kemasan produk hanya memiliki label kosong berwarna putih (white label) yang kemudian diisi dengan merek dagang pembeli.
Secara sederhana, produsen menyediakan produk jadi dalam bentuk generik atau standar (ready-to-brand), sementara penjual (retailer atau brand owner) fokus pada rebranding, pemasaran, distribusi, dan penjualan.
Penjual tidak perlu repot membangun pabrik, mengembangkan formula, atau mengurus produksi massal, cukup beli stok dari produsen, tambahkan logo sendiri, dan jual dengan harga yang lebih tinggi untuk dapat margin keuntungan.
Baca Juga: Virus Nipah Ancam Indonesia, Apa Itu & Apa Saja Gejalanya pada Manusia?
Cara Kerja White Label
Proses white label biasanya berjalan seperti ini:
- Produsen memproduksi barang secara massal dengan formula/kualitas standar (tanpa merek khusus).
- Penjual membeli produk tersebut dalam jumlah besar (bulk) dari produsen.
- Penjual melakukan rebranding: menambahkan logo, kemasan custom, nama brand, dan deskripsi produk sesuai identitasnya.
- Produk dijual melalui toko online, marketplace, gerai fisik, atau kanal sendiri — konsumen melihatnya sebagai produk asli dari brand tersebut.
- Produsen sering menawarkan white label ke banyak penjual sekaligus, sehingga produk yang sama bisa muncul dengan merek berbeda di pasar.
Ini berbeda dengan private label, di mana penjual lebih terlibat dalam customisasi (misalnya mengubah formula atau spesifikasi eksklusif), sementara white label lebih standar dan bisa dijual ke banyak brand tanpa perubahan signifikan.
Baca Juga: Mendikdasmen Ungkap Banyak Anggota DPR Lulusan Paket C, Apa Itu Paket C?
Keuntungan Menggunakan White Label
Model ini sangat diminati karena:
- Modal awal rendah: Tidak perlu investasi pabrik atau R&D besar.
- Waktu peluncuran cepat: Bisa mulai jualan dalam hitungan minggu, bukan tahun.
- Risiko minim: Produsen sudah tanggung produksi dan kualitas dasar.
- Fokus pada branding & marketing: Penjual bisa konsentrasi bangun brand, cerita, dan penjualan.
- Skalabilitas tinggi: Mudah tambah varian produk tanpa produksi sendiri.
- Cocok untuk pemula/UMKM: Banyak dipakai di fashion, kosmetik, makanan, suplemen, hingga software/digital services.
Namun, ada kekurangan seperti kontrol kualitas terbatas, margin lebih tipis jika kompetisi ketat, dan potensi produk mirip dengan kompetitor (karena formula sama).
Baca Juga: Fenomena Sinkhole di Situjuah Batua: Apa Itu dan Mengapa Berbahaya?
Contoh Produk White Label di Kehidupan Sehari-hari
- Kosmetik & Skincare: Banyak brand lokal Indonesia jual lipstik, serum, atau sabun mandi white label dari pabrik maklon (contoh: brand kecantikan kecil di Shopee/Tokopedia sering pakai ini).
- Makanan & Minuman: Kopi sachet, teh celup, atau snack kemasan dengan merek toko (misalnya merek rumah tangga di supermarket seperti "365 Everyday Value" milik Whole Foods yang sebenarnya diproduksi pihak ketiga).
- Elektronik: Speaker Bluetooth, earphone, atau charger yang dijual dengan brand retailer (banyak merek generik dari China direbrand).
- Software & Layanan Digital: Platform website builder, tool SEO, atau app chat yang dijual ulang dengan brand agency sendiri.
- Suplemen & Vitamin: Brand kesehatan yang jual kapsul vitamin atau herbal white label dari pabrik farmasi.
Di Indonesia, white label sangat booming di sektor UMKM, terutama kosmetik maklon, makanan ringan, dan produk digital (seperti white label software untuk bisnis online). Ini jadi jalan pintas bagi entrepreneur yang ingin punya brand sendiri tanpa ribet produksi.
Tonton: Perawatan Gigi di Era Digital, Lebih Cepat dan Akurat
Selanjutnya: Harga Bitcoin Sempat Ambles ke US$ 60.000, Hati-Hati Fase Kapitulasi!
Menarik Dibaca: Harga Bitcoin Sempat Ambles ke US$ 60.000, Hati-Hati Fase Kapitulasi!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News