KONTAN.CO.ID - Mengenal apa itu ICE Amerika Serikat yang sedang ramai diperbincangkan. Istilah ICE yang merujuk pada lembaga pemerintah yang dikaitkan dengan kebijakan deportasi oleh Donald Trump.
ICE atau Immigration and Customs Enforcement (Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat) adalah lembaga penegak hukum federal di bawah Department of Homeland Security (DHS) Amerika Serikat.
Dibentuk pada tahun 2003 pasca-serangan 11 September 2001, ICE bertugas menegakkan hukum imigrasi di dalam wilayah AS, melakukan investigasi kejahatan lintas batas (seperti perdagangan manusia, pemalsuan dokumen, dan kejahatan bea cukai), mencegah terorisme, serta menangkap dan mendeportasi imigran ilegal.
Baca Juga: PBB Ungkap Dunia Terancam Era Kebangkrutan Air, Apa Artinya?
Melansir laman Reuters, lebih dari 20.000 personel di 400+ kantor di AS dan luar negeri, ICE memiliki kewenangan luas termasuk penggerebekan, penahanan, dan deportasi, namun hanya untuk non-warga negara AS yang melanggar aturan imigrasi.
ICE bukan polisi biasa, melainkan agen federal khusus imigrasi. Secara tertetulis, ICE tidak berwenang menangkap atau menahan warga negara AS secara langsung (kecuali jika terlibat dalam pelanggaran imigrasi atau menghalangi operasi).
Namun, dalam praktiknya, ICE sering dikritik karena tindakan yang dianggap berlebihan, seperti penggerebekan tanpa surat perintah jelas, penggunaan kekerasan, atau kesalahan identifikasi yang menimpa warga AS atau imigran legal.
Lembaga ini menjadi sangat kontroversial sejak masa pemerintahan Donald Trump pertama (2017–2021), dan kini kembali menjadi sorotan utama pada awal 2026 di masa Trump kedua, di mana kebijakan deportasi massal ditingkatkan secara agresif.
Baca Juga: Daftar Negara dengan Militer Terkuat di Dunia Tahun 2026, Amerika No. 1
Mengapa ICE Ramai Diperbincangkan di Awal 2026?
Pada Januari–Februari 2026, ICE menjadi viral secara global (termasuk di Indonesia) karena serangkaian insiden kekerasan dan protes massal di AS. Kronologi utama:
- Awal Januari 2026: Pemerintahan Trump mengerahkan ribuan agen ICE untuk operasi deportasi besar-besaran, terutama di negara bagian seperti Minnesota (Minneapolis), California (Los Angeles), dan Georgia. Ini dipicu oleh narasi anti-imigran, termasuk tuduhan penipuan dana anak di komunitas Somalia di Minneapolis.
- 7 Januari 2026: Agen ICE menembak mati Renée Good (37 tahun, warga AS) di Minneapolis saat mengamati operasi ICE sebagai "ICE verifier" (warga sipil yang memantau aktivitas agen). Video viral menunjukkan penembakan setelah konfrontasi, memicu gelombang protes nasional dengan slogan "ICE Out" dan tuntutan penarikan agen dari Minnesota.
- Pertengahan Januari: Insiden serupa berlanjut, termasuk penembakan fatal terhadap warga AS lain (Alex Pretti pada 24 Januari) dan penggerebekan yang dianggap sewenang-wenang, bahkan mencoba memasuki konsulat Ekuador di Minneapolis (melanggar kekebalan diplomatik).
- Akhir Januari–Awal Februari: Ribuan demonstran turun ke jalan di Minneapolis, Los Angeles, dan kota-kota lain. Bentrokan dengan polisi, mogok belajar pelajar, hingga selebritas di Grammy Awards 2026 memakai pin "ICE Out" sebagai protes. Video penggerebekan, penangkapan brutal, dan warga sipil yang terluka menjadi viral di media sosial, termasuk YouTube, Instagram, dan TikTok.
- Kontroversi tambahan: ICE dikecam karena menargetkan komunitas minoritas (termasuk Asia, Somalia, dan Latino), meskipun banyak korban adalah warga AS. Trump membela ICE sebagai "pembela keamanan nasional", sementara kritikus menyebutnya "brutal" dan "sewenang-wenang".
Baca Juga: Viral Imigran Indonesia Jadi Tentara US Army, Apa Syarat dan Benefitnya?
Dampak dan Reaksi Global
Di Indonesia, isu ICE ramai karena banyak WNI di AS (mahasiswa, pekerja) khawatir terdampak crackdown imigrasi. Beberapa kasus WNI ditahan atau dideportasi pada 2025–2026 juga menjadi perhatian KBRI.
Secara global, ICE menjadi simbol polarisasi politik AS: didukung kelompok konservatif sebagai penjaga perbatasan, tapi dibenci kelompok progresif karena dugaan pelanggaran HAM, rasisme, dan penyalahgunaan kekuasaan.ICE tetap menjadi salah satu lembaga paling kontroversial di AS saat ini.
Dengan operasi deportasi massal yang terus berlanjut, perbincangan tentang reformasi imigrasi, akuntabilitas agen, dan hak sipil diprediksi semakin memanas sepanjang 2026.
Pantau terus berita terkini dari sumber resmi seperti situs ICE.gov atau media internasional untuk update akurat.
Tonton: Kasus TBC di Indonesia Tertinggi Kedua di Dunia, Prabowo Panggil Wamenkes yang Ahli Paru
Selanjutnya: Promo Minyak Goreng di Indomaret Awal Februari 2026, Diskon Berakhir Besok!
Menarik Dibaca: Roh Jeong Eui dan Bae In Hyuk Asuh Keponakan, Ini Sinopsis Our Universe
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News