KONTAN.CO.ID - Mengenal Kebangkrutan Air yang diungkap PBB. Pada 20 Januari 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa merilis laporan berjudul “Global Water Bankruptcy: Living Beyond Our Hydrological Means in the Post-Crisis Era”.
Laporan ini menyatakan bahwa dunia telah memasuki era baru yang disebut global water bankruptcy atau kebangkrutan air global.
Kondisi ini bukan lagi sekadar krisis air sementara, melainkan keadaan kronis ketika sistem air alamiah mengalami kebangkrutan secara hidrologis, yakni penarikan air yang melampaui kemampuan pemulihan alami, dengan sebagian kerusakan yang sudah tidak dapat dipulihkan kembali.
Lalu, apa sebenarnya arti dari Kebangkrutan Air? Cek penjelasan selengkapnya.
Baca Juga: Hari Besar 3 Februari: Ada Apa Selain Nisfu Syaban? Simak Daftar Peringatan Ini!
Pergeseran Paradigma Krisis Air
Laporan PBB menandai perubahan cara pandang dalam pengelolaan sumber daya air. Apabila sebelumnya respons dunia lebih berfokus pada penanganan darurat terhadap kekeringan atau banjir sesaat, kini pendekatannya bergeser menuju pengelolaan kebangkrutan air secara sistematis dan jangka panjang.
Direktur UNU-INWEH sekaligus penulis utama laporan, Kaveh Madani, menyebut bahwa bagi sebagian besar wilayah dunia, kondisi “normal” sudah tidak lagi ada. Pengakuan atas kegagalan ini dimaksudkan untuk mendorong aksi nyata dan pemulihan berkelanjutan.
Pengertian Water Bankruptcy
Istilah water bankruptcy didefinisikan sebagai kombinasi antara kondisi insolvency dan irreversibility. Insolvency terjadi ketika penarikan air permukaan dan air tanah secara terus-menerus melebihi aliran terbarukan serta batas aman penurunan cadangan alamiah.
Sementara itu, irreversibility muncul saat komponen utama ekosistem air, seperti lahan basah, danau, sungai, dan akuifer, mengalami degradasi permanen sehingga tidak dapat kembali ke kondisi historis meskipun curah hujan kembali normal.
Laporan ini menegaskan bahwa banyak cekungan sungai dan akuifer di berbagai belahan dunia telah memasuki fase pasca-krisis. Krisis air yang dahulu dianggap bersifat sementara kini berubah menjadi kondisi kronis. Kekeringan, kelangkaan air, serta pencemaran tidak lagi menjadi kejadian luar biasa, melainkan telah menjadi norma baru dalam sistem hidrologi global.
Baca Juga: Tiket Mudik Lebaran 2026 dengan Kereta Api Telah Dibuka, Ini Jadwalnya
Temuan Utama Laporan
Sejumlah temuan utama menunjukkan skala permasalahan yang semakin mengkhawatirkan. Lebih dari separuh danau besar dunia mengalami penurunan volume sejak awal 1990-an. Sekitar 35 persen lahan basah alami hilang sejak 1970. Hampir tiga perempat populasi dunia tinggal di negara dengan tingkat ketidakamanan air yang tinggi atau kritis.
Sekitar empat miliar orang mengalami kekurangan air parah setidaknya satu bulan setiap tahun, sementara kerugian ekonomi akibat kekeringan secara global mencapai ratusan miliar dolar AS per tahun.
Penyebab Utama Krisis Air
Kebangkrutan air global dipicu oleh berbagai faktor, antara lain eksploitasi air berlebihan untuk pertanian, industri, dan kebutuhan perkotaan, degradasi lahan dan tanah, deforestasi, pencemaran, serta perubahan iklim yang memperburuk pola curah hujan.
Faktor-faktor ini saling berkaitan dan mempercepat kerusakan sistem air alamiah.
Baca Juga: Logo Imlek Nasional 2026: Ada Gambar Kuda Merah Putih, Apa Maknanya?
1. Dampak Sosial dan Lingkungan
Dampak dari kondisi ini sangat luas dan mengancam miliaran orang, khususnya masyarakat rentan di negara berkembang. Kekurangan air kronis berpotensi memicu konflik sosial, migrasi massal, penurunan produksi pangan, serta kerusakan ekosistem dalam skala besar. Tanpa perubahan pendekatan, risiko sosial dan ekologis diperkirakan akan terus meningkat.
2. Rekomendasi dan Arah Kebijakan
Laporan tersebut menyerukan perlunya transisi menuju pendekatan bankruptcy management. Langkah ini mencakup penerapan akuntansi air yang transparan, penetapan batas penarikan air yang tegas dan dapat ditegakkan, perlindungan modal alam terkait air seperti akuifer dan lahan basah, serta transisi yang berkeadilan dengan melindungi masyarakat dan mata pencaharian yang rentan.
Selain itu, dibutuhkan investasi besar-besaran di sektor air untuk mendorong kemajuan di bidang iklim, keanekaragaman hayati, pangan, dan kesehatan.
Momentum global dan target pembangunan berkelanjutan dipandang sebagai peluang untuk mereset agenda air dunia dan menjadikan air sebagai sarana kerja sama, bukan sumber konflik.
Tonton: Airlangga Gelar Rapat Cari Pengganti Pejabat BEI dan OJK yang Mundur Massal
Selanjutnya: Hari Kanker Sedunia 2026: Perayaan hingga Tema United by Unique
Menarik Dibaca: Layar Huawei MatePad 11.5: Fitur Tersembunyi Ini Bikin Kagum
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News