BMKG Sebut Gempa Pacitan Berjenis Megathrust, Apa Artinya?

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:47 WIB
BMKG Sebut Gempa Pacitan Berjenis Megathrust, Apa Artinya?

ILUSTRASI. BMKG (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Sumber: Info BMKG  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Mengenal apa itu arti Megathrust pada Gempa Bumi Pacitan Jumat (6/2). Pada dini hari Jumat, 6 Februari 2026, pukul 01.06 WIB, wilayah tenggara Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, diguncang gempa bumi tektonik dengan kekuatan Magnitudo (M) 6,4 (diperbarui menjadi M6,2 oleh BMKG).

Episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,98° LS dan 111,18° BT, sekitar 89–90 km tenggara Kota Pacitan, dengan kedalaman hiposenter 10–58 km (data BMKG update menunjukkan dangkal).

Gempa ini tidak berpotensi tsunami, namun getarannya terasa cukup kuat hingga di beberapa wilayah Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, dan Bali.

Baca Juga: Apa Arti Kata Lindu? Spontanitas Masyarakat Jawa Saat Gempa Bumi

Adapun, daerah yang merasakan seperti Bantul, Sleman, Kulon Progo (Yogyakarta), Trenggalek, Malang, Blitar, Surakarta, Magelang, Madiun, hingga Denpasar (Bali).

Akibatnya, dilaporkan tujuh orang luka ringan dan satu rumah ambruk di Pacitan, dengan intensitas guncangan mencapai MMI IV (dirasakan oleh banyak orang, benda ringan bergoyang) di beberapa daerah terdekat.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa ini diklasifikasikan sebagai gempa megathrust. Lalu, apa artinya jenis kegempaan ini? Cek penjelasan selengkapnya.

Baca Juga: Mengenal Sesar Baribis dan Citarik: 2 Sesar Aktif yang Membawa Risiko Gempa

Arti Megathrust

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa Pacitan termasuk jenis megathrust karena memiliki mekanisme sumber berupa pergerakan naik (thrust fault atau thrusting) dengan kedalaman dangkal, yang merupakan ciri khas aktivitas pada zona subduksi megathrust selatan Jawa.

Zona megathrust ini adalah area pertemuan (subduksi) antara lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa, membentuk Sunda Megathrust, salah satu zona subduksi paling aktif dan berpotensi menghasilkan gempa besar serta tsunami di Indonesia.

Megathrust merujuk pada gempa yang terjadi di interface (bidang geser) zona subduksi antara dua lempeng tektonik yang saling bertabrakan, di mana lempeng samudra menunjam di bawah lempeng benua.

Baca Juga: Apa Arti Living Together yang Ramai di Media Sosial? Ini Kaitan dengan KUHP Baru

Karakteristik utamanya:

  • Pergerakan naik (thrust): Lempeng yang menunjam "terkunci" sementara, lalu tiba-tiba lepas dan naik kembali, melepaskan energi besar.
  • Kedalaman dangkal hingga menengah (biasanya <60 km), sehingga guncangan terasa lebih kuat di permukaan.
  • Potensi tinggi memicu tsunami jika deformasi dasar laut signifikan (dalam kasus Pacitan, BMKG menyatakan tidak berpotensi karena magnitudo belum mencapai ambang kritis dan deformasi terbatas).
  • Lokasi: Di zona megathrust Jawa, yang membentang dari Sumatra hingga Bali-Nusa Tenggara, dengan sejarah gempa besar seperti Aceh 2004 (M9,1) atau potensi "The Big One" di Jawa.

Baca Juga: WNI ke Afrika Selatan Kini Bebas Visa, Apa Arti Negara Bebas Visa?

BMKG menekankan bahwa meski magnitudo 6,2–6,4 tergolong kuat dan patut disyukuri karena tidak mencapai M7,0 (yang lebih berpotensi tsunami besar).

Selain itu, warga tetap diminta siaga dan waspada terhadap gempa susulan (aftershock) serta mempersiapkan mitigasi bencana.

Hingga pagi hari 6 Februari 2026, belum ada laporan aftershock signifikan. Gempa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan di wilayah rawan megathrust Jawa, terutama pesisir selatan yang langsung berhadapan dengan zona subduksi.

Tonton: Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Purbaya Janji Tidak Naikkan Tarif Pajak

Selanjutnya: 7 Rekomendasi Tablet Pengganti Laptop: Performa Tinggi, Kerja Lebih Ringkas!

Menarik Dibaca: Hemat Lebih Banyak! 6 Promo Kuliner Spesial Hari Ini 6 Februari, Starbucks hingga A&W

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru