Depresi post partum, sering terjadi pada ibu baru melahirkan, apa itu?

Jumat, 25 Desember 2020 | 11:04 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
Depresi post partum, sering terjadi pada ibu baru melahirkan, apa itu?

KONTAN.CO.ID - Kelahiran bayi dapat memicu campuran emosi yang kuat, dari kegembiraan hingga ketakutan dan kecemasan. 

Selain itu, kelahiran bayi juga bisa memunculkan hal yang tidak terduga yakni depresi atau dikenal dengan depresi post partum atau post partum depression. 

Kebanyakan ibu baru mengalami "baby blues" setelah melahirkan, yang biasanya mencakup perubahan suasana hati, tangisan, kecemasan, dan kesulitan tidur. 

Baby blues biasanya dimulai dalam dua hingga tiga hari pertama setelah melahirkan, dan dapat berlangsung hingga dua minggu.

Tetapi beberapa ibu baru mengalami bentuk depresi yang lebih parah dan bertahan lama yang dikenal sebagai depresi post partum. Sementara, bentuk depresi yang lebih ekstrem dikenal sebagai psikosis post partum.

Baca Juga: Inilah 7 manfaat menyusui untuk anak dan ibu, bisa cegah beragam penyakit

Gejala depresi post partum 

Depresi setelah melahirkan pada awalnya mungkin disalahartikan sebagai baby blues. 

Namun, depresi post partum tanda dan gejalanya lebih intens dan bertahan lebih lama, dan pada akhirnya dapat mengganggu kemampuan ibu untuk merawat bayi dan menangani tugas sehari-hari lainnya. 

Gejala biasanya berkembang dalam beberapa minggu pertama setelah melahirkan, tetapi dapat dimulai lebih awal, yakni selama kehamilan atau hingga satu tahun setelah bayi lahir.  Depresi post partum adalah keadaan ketika seorang ibu merasakan rasa sedih, bersalah, dan bentuk umum depresi lainnya dalam jangka waktu yang lama setelah melahirkan.

Baca Juga: Ini manfaat konsumsi buah manggis secara rutin untuk kesehatan

Dirangkum dari laman Mayo Clinic, tanda dan gejala depresi post partum atau setelah melahirkan bervariasi, dan bisa berkisar dari ringan sampai berat. Tanda dan gejala depresi post partum mungkin termasuk:

  • Suasana hati tertekan atau perubahan suasana hati yang parah
  • Menangis berlebihan
  • Kesulitan menjalin ikatan dengan bayi 
  • Menarik diri dari keluarga dan teman
  • Kehilangan nafsu makan atau makan lebih banyak dari biasanya
  • Ketidakmampuan untuk tidur (insomnia) atau terlalu banyak tidur
  • Kelelahan yang luar biasa atau kehilangan energi
  • Berkurangnya minat dan kesenangan pada aktivitas yang dulu Anda nikmati
  • Mudah marah
  • Takut bahwa Anda bukan ibu yang baik
  • Keputusasan
  • Perasaan tidak berharga, malu, bersalah atau tidak mampu
  • Berkurangnya kemampuan untuk berpikir jernih, berkonsentrasi atau mengambil keputusan
  • Kegelisahan
  • Kecemasan yang parah dan serangan panik
  • Pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi Anda
  • Pikiran berulang tentang kematian atau bunuh diri

Jika tidak diobati, depresi post partum dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau lebih.

Baca Juga: Inilah 5 manfaat susu kedelai yang berguna untuk kesehatan

Psikosis post partum

Psikosis post partum adalah kondisi langka yang biasanya berkembang dalam minggu pertama setelah melahirkan dan memiliki tanda dan gejala yang parah. Tanda dan gejala psikosis post partum adalah: 

  • Kebingungan dan disorientasi
  • Pikiran obsesif tentang bayi Anda
  • Halusinasi dan delusi
  • Gangguan tidur
  • Energi dan agitasi yang berlebihan
  • Paranoia
  • Mencoba menyakiti diri sendiri atau bayi Anda
  • Psikosis post partum dapat mengarah pada pikiran atau perilaku yang mengancam jiwa dan membutuhkan perawatan segera.

Baca Juga: 12 Manfaat buah manggis untuk kesehatan

Kapan harus ke dokter?

Jika Anda merasa tertekan setelah bayi Anda lahir, Anda mungkin enggan atau malu untuk mengakuinya. Tetapi, jika Anda mengalami gejala baby blues, post partum, dan psikosis post partum setelah melahirkan maka segera hubungi dokter dan buat janji untuk konsultasi. 

Penting untuk menghubungi dokter sesegera mungkin jika tanda dan gejala depresi memiliki salah satu dari ciri-ciri ini:

  • Tidak menghilang setelah dua minggu
  • Semakin buruk
  • Membuat Anda kesulitan merawat bayi 
  • Kesulitan menyelesaikan tugas sehari-hari
  • Serta muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi Anda.

Selanjutnya: Inilah 13 tips mudah mengatasi insomnia

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Virdita Ratriani
Terbaru