Gas Air Mata: Kandungan Kimia, Risiko, dan Cara Mengatasi jika Terpapar

Kamis, 06 Oktober 2022 | 08:06 WIB Sumber: Wikipedia
Gas Air Mata: Kandungan Kimia, Risiko, dan Cara Mengatasi jika Terpapar

ILUSTRASI. Polisi terlihat di antara gas air mata saat pengunjuk rasa terus melakukan protes atas kematian George Floyd saat ditahan oleh polisi Minneapolis, di Minnepolis, Minnesota, Amerika Serikat, Sabtu (30/5/2020). REUTERS/Leah Millis


KONTAN.CO.ID - Gas air mata merupakan gas yang sering digunakan oleh aparat keamanan di seluruh dunia untuk melawan kerusuhan.

Gas air mata bisa menyebabkan orang yang terkena paparan akan mengalami air mata, bersin, batuk, kesulitan bernapas, dan nyeri pada mata. 

Gejala itu biasanya akan menyebabkan massa bubar dan menjauh dari lokasi penggunaan gas air mata.

Dampak jangka pendek dan jangka panjang penggunaan gas air mata antara lain memperparah penyakit pernapasan, menimbulkan luka dan penyakit mata, serta radang kulit.

Efek gas air mata juga dapat merusak sistem peredaran darah dan pencernaan. Dalam kasus paparan tertinggi, gas air mata dapat menyebabkan kematian.

Baca Juga: Dalam 3 Minggu Lagi, TGIPF Laporkan Hasil Penelusuran Tragedi Kanjuruhan

Meski disebut "gas", gas air mata biasanya terdiri dari campuran aerosol. Aerosol sendiri berarti partikel padat atau cair yang melayang di udara.

Seperti dikutip dari Wikipedia dari NCBI Journal, bahan kimia yang sering digunakan dalam gas air mata antara lain CS (2-chlorobenzalmalononitrile, C10H5ClN2), CN (chloroacetophenone, C8H7ClO), CR (dibenzoxazepine, C13H9NO), dan semprotan merica (gas OC, oleoresin capsicum)

Juga dari artikel NCBI Journal yang lain, artikel di Wikipedia menyebutkan gas air mata bekerja melumpuhkan target dengan menimbulkan iritasi selaput lendir di mata, hidung, mulut, dan paru-paru.

Akibatnya, target yang terkena gas air mata akan menangis, bersin, batuk, sulit bernapas, dan nyeri pada mata.

Gejala iritasi muncul setelah 20 hingga 60 detik terpapar, kemudian hilang dengan sendirinya setelah 30 menit terpapar gas air mata.

Baca Juga: Inilah Doa Raja Salman dan Putra Mahkota MBS untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Risiko Terpapar Gas Air Mata dana Cara Menangani

Meski dianggap kurang mematikan, masih ada risiko cedera permanen yang serius atau kematian saat gas air mata digunakan.

Beberapa risiko serius justru akibat terkena tabung gas air mata. Selain lecet, orang bisa mengalami atau patah tulang tengkorak.

Efek gas air mata biasanya hanya peradangan kulit ringan, namun komplikasi yang tertunda mungkin terjadi. Penderita asma, misalnya, berisiko tinggi terkena gas air mata.

Tidak ada obat penawar khusus untuk gas air mata secara umum. Menjauh dari area paparan gas air mata ke udara segar adalah cara terbaik.

Orang yang terpapar gas air mata sebaiknya melepas pakaian dan lensa kontak karena kedua jenis benda tersebut dapat menempel pada partikel dalam gas air mata.

Setelah seseorang terpapar gas air mata, ada berbagai cara untuk menghilangkan sebanyak mungkin bahan kimia yang menempel dan meredakan gejalanya.

Baca Juga: Waspada, Ini Bahaya Gas Air Mata Pada Organ-Organ Tubuh Selain Mata

Mata yang terbakar dapat dibilas dengan air untuk menghilangkan bahan kimia.

Mandi dan menggosok seluruh tubuh dengan sabun dan air dapat menghilangkan partikel dalam gas air mata yang menempel di kulit.

Pakaian, sepatu, dan aksesori yang terkena uap harus dicuci hingga bersih karena partikel yang menempel dapat tetap aktif hingga seminggu.

Rasa sakit pada mata bisa dikurangi dengan mengonsumsi obat pereda nyeri.

Cuka, susu, dan air jeruk nipis digunakan para aktivis sebagai bahan pengobatan gas air mata saat mereka pulang.

*Referensi lebih lanjut tentang seluk-beluk gas air mata yang dirangkum dalam artikel ini dapat ditemukan di artikel Wikipedia ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hasbi Maulana

Terbaru