Kenapa Februari Hanya 28 dan 29 Hari? Intip Sejarah di Balik Bulan Unik Ini

Rabu, 26 Februari 2025 | 13:46 WIB   Penulis: Bimo Kresnomurti
Kenapa Februari Hanya 28 dan 29 Hari? Intip Sejarah di Balik Bulan Unik Ini

ILUSTRASI. Ilustrasi tanggal merah bulan Maret 2022.


CARI TAHU - JAKARTA. Ketahui alasan kenapa bulan Februari hanya 28 dan 29 hari.Februari adalah bulan yang dikenal memiliki jumlah hari yang berbeda dibandingkan bulan-bulan lainnya dalam kalender Gregorian.

Sementara sebagian besar bulan memiliki 30 atau 31 hari, Februari hanya memiliki 28 hari pada tahun biasa dan 29 hari pada tahun kabisat.

Keunikan ini berasal dari sejarah panjang perkembangan kalender yang dimulai sejak zaman Romawi kuno hingga reformasi kalender yang dilakukan oleh Julius Caesar dan Paus Gregorius XIII.

Baca Juga: Syarat Daftar Mudik Bareng Honda Tahun 2025 dan Jadwalnya, Rp 150.000 Dapat 2 Tiket

Sejarah Februari 28 Hari

Kalender Februari 2025

Februari merupakan bulan yang unik dalam kalender Gregorian karena memiliki jumlah hari yang tidak tetap: 28 hari pada tahun biasa dan 29 hari pada tahun kabisat.

Sejarah di balik jumlah hari Februari terkait dengan perkembangan kalender Romawi kuno dan reformasi yang dilakukan oleh Julius Caesar dan kemudian Paus Gregorius XIII.

Untuk itu, simak penjelasan terkait sejarah di balik bulan Februari berjumlah hanya 28-29 hari, dilansir dari Britannica.

Baca Juga: Marhaban ya Ramadan Apa Artinya? Ini Penggunaan di Bulan Puasa dan Cara Membalasnya

1. Kalender Romawi Kuno

Pada awalnya, kalender Romawi kuno hanya terdiri dari 10 bulan, dimulai dari bulan Maret dan berakhir pada bulan Desember. Bulan Januari dan Februari tidak ada dalam kalender ini, sehingga total jumlah hari dalam setahun hanya 304 hari. Sisanya dianggap sebagai musim dingin yang tidak dihitung.

Pada abad ke-8 SM, Raja Romawi Numa Pompilius melakukan reformasi terhadap kalender ini. Dia menambahkan dua bulan baru, yaitu Januari dan Februari, untuk menyelaraskan kalender dengan siklus lunar.

Untuk menjaga agar total hari dalam setahun mendekati 365 hari, Numa menetapkan Februari sebagai bulan terakhir dalam kalender, dengan 28 hari, karena angka 28 dianggap tidak beruntung dalam kepercayaan Romawi.

Baca Juga: 30 Ucapan Selamat Bulan Ramadan 2025 atau 1446 Hijriah untuk Sambut Ibadah Puasa

2. Reformasi Julius Caesar

Kalender Romawi yang telah direformasi oleh Numa masih tidak tepat, karena tahun lunar dan tahun matahari tidak sepenuhnya sinkron. Hal ini menyebabkan masalah dalam sinkronisasi musim dengan kalender. Pada tahun 46 SM, Julius Caesar memperkenalkan kalender Julian untuk memperbaiki masalah ini.

Julius Caesar menetapkan bahwa satu tahun terdiri dari 365 hari dengan satu tahun kabisat setiap empat tahun.

Pada tahun kabisat, satu hari ekstra ditambahkan pada bulan Februari, sehingga menjadi 29 hari. Ini menjaga agar kalender tetap sejalan dengan siklus matahari. Tahun biasa dalam kalender Julian memiliki 365 hari, dan tahun kabisat memiliki 366 hari.

Baca Juga: Ini 7 Rekomendasi Jenis Kurma Terenak di Dunia untuk Hidangan saat Bulan Puasa

3. Reformasi Kalender Gregorian

Kalender Julian memiliki kelemahan dalam menghitung tahun kabisat, karena terlalu sering menambahkan hari kabisat. Akibatnya, kalender Julian meleset sekitar 11 menit per tahun dari tahun tropis (siklus matahari).

Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII melakukan reformasi kalender untuk memperbaiki perbedaan tersebut, yang kemudian dikenal sebagai kalender Gregorian.

Dalam kalender Gregorian, aturan tahun kabisat sedikit disesuaikan: tahun yang bisa dibagi 4 adalah tahun kabisat, kecuali untuk tahun yang bisa dibagi 100, kecuali jika juga bisa dibagi 400. Aturan ini membuat sistem tahun kabisat lebih akurat dan menjaga kalender lebih sinkron dengan siklus matahari.

Sehingga, bulan Februari memiliki 28 hari dalam tahun biasa karena warisan dari kalender Romawi kuno yang menetapkan bulan tersebut sebagai bulan terpendek.

Pada tahun kabisat, Februari memiliki 29 hari untuk menyesuaikan dengan perbedaan antara tahun kalender dan tahun matahari.

Tonton: Pemudik Lebaran Membludak, Polri Prediksi Jumlahnya Lebih dari 100 Juta Orang

Selanjutnya: Jadwal Imsakiyah Kota Pekanbaru Selama Ramadan 2025

Menarik Dibaca: Ikuti Tips Efektif Kedap Suara Kamar Tidur untuk Tidur Anda yang Nyenyak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Bimo Kresnomurti
Terbaru