KONTAN.CO.ID - Intip perayaan untuk Idulfitri hingga lebaran di seluruh dunia. Idul Fitri atau Eid al-Fitr bukan hanya menjadi momen kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan, tetapi juga ajang perayaan yang penuh warna di berbagai belahan dunia.
Setiap negara memiliki cara unik dalam menyambut hari raya ini, dipengaruhi oleh tradisi lokal, sejarah, hingga budaya masyarakat setempat.
Dari permainan sederhana yang penuh tawa, festival megah bernuansa kerajaan, hingga tradisi spiritual yang sarat makna, semuanya menunjukkan bahwa Idul Fitri tidak pernah dirayakan dengan cara yang sama.
Baca Juga: Cek Jadwal Libur April 2026: Jangan Sampai Lewatkan Cuti Penting Ini!
Justru keberagaman inilah yang menjadikan perayaan ini semakin menarik dan kaya akan nilai kebersamaan serta identitas budaya.
Tradisi-tradisi ini bukan hanya sekadar perayaan, tapi juga cerminan identitas budaya, nilai kebersamaan, dan cara tiap masyarakat mengekspresikan kemenangan setelah Ramadan.
Berikut ini beberapa negara dengan perayaan dan tradisi lebaran, dirangkum dari Reuters.
Baca Juga: Bukan Mudik Lebaran Indonesia, Ini Fenomena Pulang Kampung Terbesar di Dunia
1. Afghanistan: Tokhm-Jangi (Adu Telur Rebus)
Di Afghanistan, Idul Fitri tak selalu identik dengan suasana formal, justru ada sisi permainan yang sangat terasa lewat tradisi Tokhm-Jangi. Permainan ini sederhana: dua orang saling membenturkan telur rebus mereka, dan siapa yang telurnya retak lebih dulu dinyatakan kalah. Pemenang berhak mengambil telur milik lawan.
Meski terlihat sepele, tradisi ini punya makna simbolis sebagai bentuk kemenangan, ketahanan, dan keberuntungan setelah sebulan berpuasa. Biasanya dimainkan oleh anak-anak hingga orang dewasa, baik di halaman rumah, pasar, maupun ruang terbuka.
Suasana jadi penuh tawa, canda, dan kompetisi ringan yang mempererat hubungan sosial. Di tengah berbagai tantangan sosial di negara tersebut, Tokhm-Jangi menjadi momen kecil yang menghadirkan kebahagiaan kolektif.
Baca Juga: Asal-usul Kata Mudik: Ini Alasan Filosofis Wajib Pulang Kampung Tiap Lebaran
2. Turki: Şeker Bayramı (Festival Gula)
Di Turki, Idul Fitri lebih dikenal dengan nama Şeker Bayramı atau “Festival Gula.” Nama ini bukan tanpa alasan, perayaan dipenuhi dengan berbagai jenis manisan seperti baklava, lokum (Turkish delight), cokelat, dan permen warna-warni.
Tradisi yang paling menarik adalah anak-anak yang berkeliling ke rumah tetangga sambil mengucapkan salam khas, lalu mendapatkan permen atau uang kecil. Sekilas mirip konsep Halloween, tetapi nuansanya jauh lebih sopan dan penuh penghormatan. Selain itu, anak-anak juga melakukan gestur tradisional dengan mencium tangan orang tua atau orang yang lebih tua, lalu menempelkannya ke dahi sebagai tanda hormat dan doa restu.
Selama tiga hari penuh, suasana di Turki dipenuhi kunjungan keluarga, jamuan makan, dan suasana hangat yang menekankan pentingnya silaturahmi. Ini menjadikan Şeker Bayramı sebagai salah satu perayaan Idul Fitri paling “manis” secara harfiah maupun emosional.
Baca Juga: Ada Apa Setiap 19 Maret? Ini 3 Hari Besar Dunia yang Menarik Perhatian
3. Nigeria: Durbar Festival
Di wilayah utara Nigeria, Idul Fitri dirayakan dengan cara yang sangat megah melalui Durbar Festival. Ini bukan sekadar perayaan biasa, melainkan pertunjukan budaya besar yang menampilkan parade kuda, kostum tradisional yang mewah, serta kehadiran para emir (pemimpin tradisional).
Ratusan hingga ribuan penunggang kuda berbaris dengan formasi rapi, mengenakan pakaian penuh warna dengan ornamen khas Hausa-Fulani. Mereka sering melakukan atraksi berkuda dengan kecepatan tinggi menuju emir sebagai bentuk penghormatan. Suara terompet tradisional, tabuhan drum, dan bahkan tembakan simbolis ke udara menambah dramatis suasana.
Durbar bukan hanya hiburan, tetapi juga simbol kekuatan budaya, sejarah kerajaan Islam di Afrika Barat, dan kebanggaan identitas lokal. Tak heran jika festival ini sering menjadi sorotan internasional karena visualnya yang spektakuler.
Baca Juga: Idulfitri atau Idul Fitri yang Benar? Cek Bentuk Baku Menurut KBBI
4. Indonesia: Mudik Massal dan Open House
Di Indonesia, Idul Fitri identik dengan satu fenomena besar: mudik. Jutaan orang melakukan perjalanan dari kota ke kampung halaman, menjadikannya salah satu migrasi tahunan terbesar di dunia. Jalan tol, stasiun, pelabuhan, dan bandara dipadati pemudik yang ingin merayakan Lebaran bersama keluarga.
Namun esensi sebenarnya bukan sekadar perjalanan, melainkan makna “pulang.” Tradisi ini sarat emosi, rindu yang terbayar, kebersamaan lintas generasi, hingga ziarah ke makam leluhur sebagai bentuk penghormatan.
Selain itu, budaya open house juga menjadi ciri khas. Rumah-rumah terbuka bagi kerabat, tetangga, bahkan tamu yang mungkin baru dikenal. Hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, rendang, dan kue kering menjadi simbol berbagi rezeki dan kebahagiaan.
Meski terasa “biasa” bagi masyarakat lokal, justru tradisi ini dianggap unik secara global karena skala dan kedalaman maknanya sebagai momen homecoming terbesar.
Baca Juga: Kapan Malam ke-27 Ramadan 2026? Ini Penjelasan Terkait Lailatur Qadar
5. Afrika Selatan: Moon Watchers (Maan Kykers)
Di Afrika Selatan, khususnya di kota Cape Town, ada tradisi unik yang tetap dipertahankan hingga kini: Moon Watchers atau Maan Kykers.
Sekelompok orang ditunjuk secara khusus untuk mengamati hilal (bulan sabit) secara langsung dari lokasi tinggi seperti bukit. Salah satu titik terkenal adalah Signal Hill. Ketika hilal terlihat, mereka akan mengumumkan secara resmi bahwa Idul Fitri telah dimulai.
Di era modern yang serba digital dan berbasis perhitungan astronomi, tradisi ini terasa sangat klasik dan spiritual. Ada nuansa romantis ketika masyarakat menunggu kabar dari pengamatan langsung, menciptakan rasa kebersamaan dan antisipasi yang berbeda.
Tradisi ini juga mencerminkan bagaimana komunitas Muslim minoritas tetap menjaga warisan budaya dan keagamaan mereka dengan kuat.
Tonton: Breaking! RI Buka Peluang Impor Minyak dari Rusia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News