Sejarah Teh di Indonesia: Mulai Tanam Paksa hingga Jadi Komoditi Ekspor Mancanegara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:14 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
Sejarah Teh di Indonesia: Mulai Tanam Paksa hingga Jadi Komoditi Ekspor Mancanegara


KONTAN.CO.ID - Sejarah teh di Indonesia dimulai dengan masuknya Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Pada tahun 1684, teh pertama kali ditanam di Batavia.

Dirangkum dari situs resmi Arsip Nasional Republik Indonesia, bibit tanaman teh didatangkan dari Jepang oleh seorang warga negara Jerman, Andreas Cleyer dan ditanam sebagai tanaman hias.

Kemudian pada tahun 1817, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Kebun Raya Bogor sebagai Kebun Botani. Untuk melengkapi koleksi tanaman di Kebun Raya, pada tahun 1826 teh ditanam.

Kemudian, pada tahun 1827, teh ditanam di Kebun Percobaan Tjiseroepan, Garut, Jawa Barat.

Berawal dari sini pemerintah Hindia Belanda saat itu mencoba menanam teh secara besar-besaran di Wanayasa (Purwakarta) dan lereng Goenoeng Raoeng (Banyuwangi) dalam bentuk perusahaan perkebunan untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

Baca Juga: Mudah dibuat sendiri, ini jus buah segar yang bikin asam urat kandas

Adanya tanam paksa yang dimulai pada tahun 1830 juga berakibat pada pembukaan perkebunan teh di beberapa daerah. Dimulai dari daerah Priangan atau yang dulu dikenal dengan Preanger Regentschappen.

Saat itu, pemerintah Belanda mengirim seorang pria bernama J.J.L. Jacobson pergi ke Cina untuk mendapatkan bibit pohon teh dan orang Cina untuk dipekerjakan di perkebunan teh.

Apabila bibit sudah didapat akan ditanam di kawasan Bojonegoro yang masih menjadi bagian dari Preanger Regentschappen.

J.J.L Jacobson akhirnya diangkat sebagai Inspektur perkebunan teh setelah pemerintah Hindia Belanda melihat adanya peluang teh dapat diperdagangkan secara internasional.

Baca Juga: Asam urat kumat, ini 10 pengobatan yang bisa dicoba di rumah

Selain bibit dari Cina, bibit teh dari Jepang juga didatangkan untuk ditanam di Indonesia. Bibit teh tersebut kemudian didistribusikan di areal perkebunan antara lain ke Karesidenan Preanger Regentschappen dan Karesidenan Karawang.

Selain penyediaan bibit pohon teh untuk perkebunan yang dikelola pemerintah, ada juga bibit teh yang disediakan untuk perkebunan yang dikelola oleh swasta atau perorangan. Misalnya, Lie Huang Ko membayar 6.000 gulden uang tembaga untuk mendapatkan 50.000 biji teh.

Dikutip dari Kompas.id, pada tahun 1835, produk teh dari nusantara mulai diangkut ke Belanda sebanyak 200 peti dan untuk pertama kalinya diikutkan dalam lelang teh Amsterdam.

Teh asal Jawa ini merupakan teh pertama di luar Cina yang masuk ke pasar Eropa. Sejak saat itu, teh Indonesia mulai dikenal oleh bangsa-bangsa di dunia dan mengharumkan nama nusantara.

Baca Juga: Anda Mengalami Sariawan? Sembuhkan dengan Obat Alami Ini

Teh termasuk dalam sistem tanam paksa

Sejarah teh di Indonesia juga tidak terlepas dari sistem tanam paksa atau CultuurStelsel. Pada 1830, teh menjadi salah satu tanaman yang wajib ditanam oleh masyarakat melalui politik CultuurStelsel

Rakyat dipaksa menanam teh di lahan milik sendiri atau sewa dan ketika panen, Belanda akan membelinya.

Sejak saat itu teh telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Hingga tahun 1841, luas perkebunan teh di Jawa adalah 2.129 hektar. Lima tahun kemudian, luasnya bertambah menjadi 3.193 hektar.

Baca Juga: Resep 11 jamu tradisional untuk darah tinggi, penurun berat badan, dan lainnya

Masa tanam paksa ini berakhir pada tahun 1870 setelah pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan liberalisasi ekonomi dengan diberlakukannya Undang-Undang Agraria. Pemberlakuan undang-undang ini menjadikan Priangan sebagai kawasan pertambangan “emas hijau”. Inilah awal tonggak kesuksesan para pengusaha perkebunan.

Setelah program tanam paksa, sebagian besar tanah di Indonesia disewakan kepada pengusaha teh Belanda. Sejumlah pabrik pengolahan teh mulai didirikan untuk mengimbangi semakin banyaknya perkebunan teh.

Kemajuan budidaya teh di Indonesia terjadi setelah tahun 1877, setelah varietas Assam didatangkan dari Ceylon (Sri Lanka). Tanaman teh memiliki arti penting karena memberikan kontribusi devisa yang cukup besar bagi perekonomian Indonesia saat itu.

Baca Juga: Ini teh herbal yang efektif menurunkan kadar gula darah dan kolesterol

Jenis-jenis teh di Indonesia

Daun teh yang dipetik tidak bisa langsung dinikmati atau diseduh lalu diminum. Bagian atas daun teh harus diolah terlebih dahulu.

Dari cara pengolahan daun teh tersebut akan diperoleh beberapa jenis teh di Indonesia. Dirangkum dari situs resmi Balitbang Kementerian Pertanian, berikut 4 jenis teh yang ada di Indonesia, yaitu:

  • Teh hitam (teh hitam, teh fermentasi)
  • Teh hijau (teh hijau, teh tanpa fermentasi)
  • Teh oolong (teh semi fermentasi)
  • Teh putih

Nah, itulah sejarah teh di Indonesia dan jenis-jenis teh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Virdita Ratriani

Terbaru