8 Hujan Meteor yang Terjadi Bulan November 2022, Mau Lihat Fenomena Astronomi ini?

Kamis, 10 November 2022 | 14:20 WIB   Penulis: Arif Budianto
8 Hujan Meteor yang Terjadi Bulan November 2022, Mau Lihat Fenomena Astronomi ini?

ILUSTRASI. 8 Hujan Meteor yang Terjadi Bulan November 2022, Mau Lihat Fenomena Astronomi ini?


KONTAN.CO.ID - 8 Hujan meteor ini bakal terjadi pada bulan November 2022, mau lihat fenomena astronomi yang menarik ini? Hujan meteor Taurid Utara berlangsung lebih awal, sejak bulan Oktober lalu dan masih ada hujan meteor lainnya yang terjadi November ini.

Pusta Riset Antariksa BRIN melalui website Edukasi Sains Antariksa baru-baru ini membagikan informasi menarik terkait fenomena astronomi yang bakal terjadi November ini.

Seperti yang kita ketahui, ada beragam fenomena astronomi yang terjadi di alam semesta ini. Termasuk fenomena yang dikenal sebagai hujan meteor.

Hujan meteor sendiri adalah sejumlah meteor yang jatuh dan melewati permukaan Bumi dalam jumlah banyak, sehingga penampakannya terlihat bak hujan yang turun. Perihal meteor, sebenarnya ini merupakan jalur jatuhnya meteorid ke atmosfer Bumi.

Jalur yang tampak bersinar ini disebabkan oleh panas yang dihasilkan oleh tekanan ram, yakni tekanan pada objek yang melintas dengan kecepatan tinggi saat memasuki atmosfer Bumi. Benda langit termasuk meteoroid dan komet yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan Bumi menyebabkan terjadinya hujan meteor.

Masih berkaitan tentang hujan meteor, Andi Pangerang dari Pusat Riset Antariksa BRIN mengungkapkan deretan hujan meteor yang terjadi pada bulan November 2022 ini. Setidaknya ada 8 hujan meteor yang akan berlangsung pada bulan ini.

Baca Juga: Mengenal Fenomena Gerhana Bulan Total yang Akan Terjadi Pada November ini

Mau tahu apa saja? Cek pembahasan lengkapnya tentang hujan meteor yang terjadi bulan November ini.

Perseid meteor shower

1. Andromedid (27 Oktober - 17 November)

Andromedid merupakan hujan meteor dengan titik asal kemunculannya terletak di konstelasi Andromeda. Hujan meteor ini aktif sejak 27 Oktober hingga 17 November.

Intensitas dari hujan meteor ini maksimum mencapai 3 meteor/jam saat berada di atas pengamat pada 6 November. Hujan meteor ini juga dapat disaksikan di Indonesia dengan intensitas yang berkurang menjadi 1 meteor/jam.

Hujan meteor Andromedid sendiri berasal dari sisa komet 3D/Biela yang mengorbit Matahari dengan periode 201 hari. Kelajuan geosentrik meteor ini mencapai 68.400 km/jam.

2. Taurid Utara (20 Oktober - 10 Desember)

Kemunculan hujan meteor Taurid Utara terletak di konstelasi Taurus bagian utara dekat gugus bintang Pleiades. Hujan meteor ini telah aktif sejak 20 Oktober dan akan berlangsung hingga 10 Desember mendatang.

Intensitas hujan meteor ini  maksimum 5 meteor/jam saat berada di atas pengamat pada 13 November. Hujan meteor ini juga dapat diamati dari wilayah Indonesia dari arah timur laut setelah Matahari terbenam pada 12 November hingga terbenam di arah barat laut sebelum Matahari terbit (13 November).

Intensitas hujan meteor Taurid Utara yang tampak di wilayah Indonesia hanya 3-4 meteor/jam.

Asal hujan meteor ini dari debu komet 2P/Encke yang mengorbit Matahari dengan periode 3,3 tahun. Kelajuannya geosentrik hujan meteor tersebut mencapai 104.km/jam.

3. Leonid (6 - 30 November)

Leonid adalah hujan meteor yang titik asalnya kemunculannya terletak di konstelasi Leo. Fenomena astronomi yang satu ini aktif mulai dari 6 November dan akan berlangsung hingga 30 November.

Intensitas hujan meteor ini bervariasi, antara 10-15 meteor/jam di atas pengamat pada 18 November. Kabar baiknya, hujan meteor ini juga dapat diamati di seluruh Indonesia dari arah timur laut setelah tengah malam (18 November) hingga meredup di arah utara sebelum Matahari terbit.

Intensitas hujan meteor Leonid yang terlihat di wilayah Indonesia juga bervariasi muai dari 7-14 meteor/jam.

Leonid berasal dari sisa debu komet 55P/Tempel-Tuttle yang mengorbit Matahari dengan periode 33,3 tahun. Kelajuan geosentrik meteor tersebut mencapai 255.600 km/jam.

4. Alfa Monocerotid (15 - 25 November)

Alfa Monocerotid merupakan hjan meteor yang titik asalnya terletak di konstelasi Canis Minor yang berada di dekat bintang Alfa MOnocerotis, konstelasi Monoceros.

Fenomena hujan meteor ini aktif mulai 15 November dan akan berlangsung sampai 25 November mendatang dengan intensitas 1-5 meteor/jam saat berada di atas pengamat pada 22 November.

Dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia, hujan meteor ini dapat ditemukan dari arah timur sejak 21 November sekitar pukul 22:00 waktu setempat. Intensitas hujan meteor ini di wilayah Indonesia juga bervariasi antara 0-5 meteor/jam.

Asal meteor Monocerotid dari debu komet C/1917 F1 (Mellish) yang mengorbit Matahari dengan periode 143,5 tahun.  Sementara itu, kelajuan geosentrik meteor ini mencapai 234.000 km/jam.

Baca Juga: Mengenal Istilah Near-Earth Object (NEO), Benda Langit yang Berada di Sekitar Bumi

5. Coma Berenicid (11 - 23 November)

Penampakan hujan meteor ini terletak di dekat bintang Denebola (Beta Leonis) kosntelasi Leo berbatasan dengan Coma Berenices. Coma Berenicid aktif sejak 11 - 23 November dengan intensitas maksimum 3 meteor/jam saat berada di atas pengamat.

Fenomena hujan meteor ini juga dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia yang tampak dari arah timur laut setelah tengah malam (16 November) hingga meredup di arah utara sebelum Matahari terbit.

Intensitas hujan meteor ini di Indonesia bervariasi antara 2-3 meteor/jam.

Coma Berenicid berasal dari sisa debu benda langit yang tidak diketahui, sementara kelajuan geosentriknya mencapai 234.000 km/jam.

6. Orionid (14 November - 9 Desember)

Titik hujan meteor Orionid terletak di konstelasi Orinod yang aktif sejak 14 November hingga 6 Desember. Hujan meteor ini berintensitas maksimum 3 meteor/jam saat berada di atas pengamat pada 29 November.

Pengamat meteor di wilayah Indonesi adapat melihat fenomena astronomi ini dari arah timur sejak 28 November sekitar pukul 20.00 waktu setempat hingga meredup di arah barat laut sebelum Matahari terbit (29 November).

Intensitas hujan meteor Orionid di wilayah Indoensia bervariasi antara 2-3 meteor/jam.

Sumber hujan meteor Orionid ini belum dapat diketahui dengan pasti. Ini berbeda dengan Orionid di bulan Oktober yang bersumber dari komet Halley dengan kelajuan geosentrik mencapai 234.000 km/jam.

7. Phoenicid (27 November - 9 Desember)

Kemunculan hujan meteor Phoenicid terletak di kosntelasi Phoenix yang berada di dekat bintang Achernar (Alfa Eridani) konstelasi Erdanus. Fenomena hujan meteor ini aktif mulai 27 November dan akan berlangsung sampai 9 Desember 2022.

Intensitas hujan meteor ini cukup variatif antara 0-100 meteor/jam saat di atas pengamat pada 2 Desember. Hujan meteor ini juga dapat disaksikan di seluruh Indonesia dari arah tenggara setelah Matahari terbenam (2 Desember) hingga terbenam di barat daya keesokan harinya (3 Desember) sekitar pukul 03.00 waktu setempat.

Sementara itu, intensitas hujan meteor tersebut di wilayah Indonesia bervariasi antara 0-74 meteor/jam.

Phoenicid berasal dari sisa debu komet 289P/Blanpain yang mengorbit Matahari dengan periode 5,2 tahun dengan kelajuan geosentrik mencapai 64.800 km/jam.

8. Puppid-Velid

Menutup bulan November 2022, Puppid-Velid adalah hujan meteor yang nantinya akan berlangsung hingga 15 Desember mendatang.

Asal kemunculan hujan meteor ini terletak di kosntelasi Vela dekat bintang Regor (Gamma Velorum) yang berbatasan denga konstelasi Puppis. Sama seperti hujan meteor lainnya yang berlangsung bulan ini, pengamat dapat menyaksikan dari seluruh wilayah Indonesia.

Intensitas hujan meteor ini maksimum 10 meteor/jam di atas pengamat pada 7 Desember. Sementara di wilayah Indonesia dapat disaksikan dari arah tenggara sejak 6 Desember sekitar pukul 21.00 waktu setempat hingga meredup di arah barat daya sebelum Matahari terbit.

Intensitas hujan meteor ini di wilayah Indonesia juga lebih sedikit, hanya 6-8 meteor/jam.

Asal usul hujan meteor Puppid-Velid berasal dari komet 96P/Macholz yang mengorbit Matahari dengan periode 1,9 tahun dengan kecepatan geosentrik mencapai 144.000 km/jam.

Menurut Andi Pangerang, untuk mengamati hujan meteor tidak perlu menggunakan alat bantu optik, cukup dengan mata saja. Namun, apabila Anda ingin mengabadikan momen tersebut, silahkan menggunakan kamera DSLR maupun kamera all-sky dengan medan pandang 180 derajat.

Itu sangat direkomendasikan apabila Anda ingin mengabadikannya dalam format video.

Bagaimana? Apakah Anda sudah siap mengabadikan momen fenomena hujan meteor bulan November ini?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Arif Budianto

Terbaru