KONTAN.CO.ID - Tanggal 21 Mei di Indonesia identik dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Namun, di sisi lain, tanggal tersebut juga kerap dikaitkan dengan Hari Reformasi karena berdekatan dengan momentum besar Reformasi 1998 yang mengubah arah politik Indonesia.
Meski demikian, perlu dipahami bahwa Hari Reformasi sebenarnya tidak memiliki status resmi sebagai hari nasional yang ditetapkan pemerintah seperti Hari Kebangkitan Nasional.
Peringatan Reformasi lebih bersifat momentum sejarah dan gerakan masyarakat untuk mengenang perjuangan mahasiswa serta rakyat dalam menumbangkan rezim Orde Baru pada Mei 1998.
Baca Juga: Peringatan Hari Besar 1 Mei: Tak Hanya May Day, Ini 4 Momen Penting di Baliknya
Latar Belakang Hari Reformasi
Melansir laman ANRI, Momentum Reformasi sendiri mencapai puncaknya pada 21 Mei 1998 ketika Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, menyatakan mundur dari jabatannya setelah memimpin Indonesia selama lebih dari 32 tahun.
Pengunduran diri itu terjadi setelah gelombang demonstrasi besar-besaran mahasiswa di berbagai daerah, terutama di Jakarta.
Rangkaian peristiwa Reformasi berlangsung pada pertengahan Mei 1998, tepatnya sekitar tanggal 12 hingga 21 Mei. Karena itu, setiap memasuki tanggal 20 Mei, masyarakat sering mengaitkannya dengan suasana perjuangan Reformasi yang kala itu sedang memuncak.
Baca Juga: 22 Januari Hari Pejalan Kaki Nasional, Ketahui Latar Belakang Peringatan ini
Ada beberapa alasan mengapa Hari Reformasi yang berdekatan dengan Hari Kebangkitan Nasional setiap 21 Mei:
1. Waktu peringatannya berdekatan
Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap 20 Mei, sedangkan momen jatuhnya Soeharto terjadi pada 21 Mei 1998. Karena hanya berselisih satu hari, banyak kegiatan diskusi, seminar, hingga aksi mahasiswa dilakukan berdekatan dalam waktu yang sama.
2. Sama-sama berkaitan dengan kebangkitan bangsa
Hari Kebangkitan Nasional memperingati lahirnya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 sebagai awal munculnya kesadaran nasional melawan penjajahan.
Sementara Reformasi 1998 dipandang sebagai kebangkitan rakyat melawan krisis ekonomi, korupsi, otoritarianisme, dan tuntutan demokrasi yang lebih terbuka. Karena sama-sama membawa semangat perubahan nasional, kedua momentum tersebut sering dikaitkan.
3. Mahasiswa menjadi simbol perjuangan
Baik era Kebangkitan Nasional maupun Reformasi 1998 memiliki keterlibatan besar dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Pada masa pergerakan nasional, kaum terdidik menjadi motor perjuangan kemerdekaan. Sedangkan pada Reformasi 1998, mahasiswa menjadi garda terdepan demonstrasi menuntut perubahan politik.
Baca Juga: Cuaca Kota Palu & Poso Hari Ini 1 Mei 2026, Siapkan Payung Saat Bepergian
Dalam sejarah Reformasi, terdapat sejumlah peristiwa penting yang dikenang masyarakat, seperti Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang menewaskan empat mahasiswa, kerusuhan Mei 1998, hingga pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa sebelum Soeharto mengundurkan diri.
Setelah Reformasi bergulir, Indonesia memasuki era baru yang ditandai dengan kebebasan pers, pemilu yang lebih demokratis, pembatasan masa jabatan presiden, serta lahirnya berbagai lembaga independen negara.
Karena nilai sejarah dan semangat perjuangannya yang besar, sebagian masyarakat kemudian mengenang bulan Mei sebagai bulan kebangkitan dan perubahan nasional.
Itulah sebabnya peringatan Hari Reformasi sering disebut bersamaan dengan Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei, meskipun keduanya merupakan momentum sejarah yang berbeda.
Tonton: Idul Adha 2026 Resmi 27 Mei Pemerintah Muhammadiyah NU Kompak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News