​Mengenal Bendungan Prijetan, bendungan tertua di Indonesia sejak zaman Belanda

Rabu, 10 Februari 2021 | 14:32 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
​Mengenal Bendungan Prijetan, bendungan tertua di Indonesia sejak zaman Belanda

ILUSTRASI. Bendungan Prijetan Lamongan

KONTAN.CO.ID - Bendungan tertua di Indonesia terletak di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Namanya: Bendungan Prijetan. 

Persisnya, Bendungan Prijetan terletak di Desa Girik Kecamatan Ngimbang, Desa Tenggerejo dan Desa Mlati Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan.

Bendungan ini dibangun tahun 1910-1916. Sehingga, usianya sudah lebih dari seabad. Pada waktu itu, pelaksana proyek pembangunan adalah JF A Dligoor. 

Dirangkum dari laman Kemdikbud, Waduk Prijetan diresmikan pada 1917. Waduk ini berfungsi sebagai pengatur volume air dan irigasi masyarakat.

 Baca Juga: Tinggi muka air Sunter Hulu masih siaga 2, BPBD mengeluarkan peringatan cuaca

Waduk Prijetan dengan luas tampungan 231 ha. Awalnya, bendungan ini mampu menampung air sekitar 12 juta m3.

Namun, kini berkurang menjadi 9,75 juta m3 akibat sedimentasi. Areal baku sawah yang dilayani seluas 4.513 ha meliputi 33 desa. 

Untuk mendukung fungsi irigasinya, Waduk Prijetaan didukung saluran primer yang mencapai 5.176 meter dan saluran sekunder sepanjang 21.594 meter.

Adapun daerah yang dialiri terdiri dari 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Kedungpring, Kecamatan Sugio dan Kecamatan Modo.

Bendungan Prijetan hingga saat ini masih memberi manfaat bagi masyarakat, antara lain sebagai sumber air bagi sawah di sejumlah desa, serta sebagai sarana rekreasi.

Baca Juga: Siaga! Jakarta berpotensi banjir bandang dua hari ke depan

Kunjungan Menlu Belanda dan normalisasi jaringan irigasi

Dikutip dari Jatim.tribunnews.com, Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda Stephanus Abraham Blok mengunjungi Waduk Prijetan pada 2018 lalu.

Di dalam kompleks waduk tersebut ternyata ada makam kakek buyut Stephanus Abraham Blok yang merupakan salah satu insinyur yang turut serta dalam pembangunan Waduk Prijetan. 

“Kakek buyut saya dulu bekerja sebagai insinyur dalam pembangunan waduk ini," ungkapnya.

Pada waktu itu, dia juga menyampaikan, Pemerintah Kerajaan Belanda juga menyediakan beasiswa bagi masyarakat Indonesia untuk belajar di Belanda, khususnya terkait sumber daya air.

Sementara pemerintah juga menyiapkan anggaran normalisasi jaringan irigasi sebesar Rp 22 miliar pada 2017. 

Lalu, pada 2019 terdapat studi penanganan sedimentasi waduk, yang akan dilanjutkan pengerukan sedimen dan konservasi daerah aliran sungai dengan anggaran Rp 112 miliar.

Selanjutnya: ​Mengenal Bendungan Jatiluhur, bendungan terbesar di Indonesia yang dibangun Soekarno

 

Editor: Virdita Ratriani
Terbaru