Waspada serangan jantung, ini cara pencegahan dan penanganan pertamanya

Jumat, 18 Juni 2021 | 12:58 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Waspada serangan jantung, ini cara pencegahan dan penanganan pertamanya

ILUSTRASI. Waspada serangan jantung, ini cara pencegahan dan penanganan pertamanya. Tribun Jateng/ Hermawan Handaka.

KONTAN.CO.ID - Serangan jantung hingga henti jantung menjadi dua penyakit yang akhir-akhir ini sering dibicarakan oleh masyarakat.

Perbincangan ini menyusul mantan atlet bulutangkis kebanggaan Indonesia, Markis Kido yang meninggal pada Senin (14/6) lalu karena serangan jantung. 

Jantung merupakan salah satu organ penting tubuh yang kesehatannya perlu dijaga. Penyakit yang berkaitan dengan organ ini bisa mengancam kesehatan hingga nyawa seseorang.  

Dokter spesialis jantung Rumahsakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Habibie Arifianto menjelaskan, ada beragam ancaman kesehatan terhadap jantung. Orang yang memiliki riwayat penyakit jantung berisiko mengalami gangguan kesehatan itu.

Sebagai contoh, kasus Christian Eriksen, pemain tim nasional sepakbola Denmark, yang kolaps dikarenakan henti jantung atau cardiac arrest

Hal ini terjadi karena ada penebalan otot jantung yang tidak normal atau disebut kardiomiopati hipertrofi dalam istilah medisnya. Henti jantung juga bisa disebabkan oleh irama atau aritma jantung yang terganggu. 

“Bukan merupakan serangan jantung. Kardiomiopati hipertrofi diakibatkan oleh adanya jaringan ikat pada otot jantung," kata Habibie seperti dilansir dari laman UNS

"Hal ini berakibat otot jantung menjadi sangat tebal dan berisiko mengalami gangguan irama pada saat aktivitas yang berlebihan, dalam hal ini olahraga, hingga mampu memicu henti jantung mendadak,” ujar dia. 

Baca Juga: Bisa pakai bumbu dapur, simak cara mengusir tikus dari rumah ini

Remaja bisa mengalami henti jantung

Henti jantung tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja, tetapi remaja juga bisa mengalami hal ini. Kelainan bawaan seperti kardiomiopati hipertrofi bisa terjadi sejak usia anak-anak. Semakin bertambahnya usia, risiko henti jantung bisa terjadi saat remaja. 

Berbeda dengan kasus Eriksen, meninggalnya Markis Kido disebabkan oleh serangan jantung karena penyakit jantung koroner. 

“Risiko serangan jantung bagi atlet sama dengan risiko serangan jantung atau henti jantung mendadak pada populasi umum. Apalagi, bagi yang sudah ada faktor risiko penyakit jantung koroner atau risiko keluarga dengan henti jantung mendadak,” ucap Habibie. 

Serangan jantung disebabkan oleh aliran darah terhenti di pembuluh darah koroner secara tiba-tiba. Kejadian ini menyebabkan otot jantung tidak mendapatkan pasokan oksigen dengan normal.

Baca Juga: Air rendaman biji ketumbar bisa membantu menurunkan kolesterol tinggi

Penyakit yang menyerang jantung ada beragam seperti jantung koroner, gagal jantung, hingga gangguan irama jantung. Meskipun beragam, masih ada yang beranggapan penyakit jantung sama satu dengan yang lainnya.

Menurut Habibie, serangan jantung adalah episode kurangnya oksigen dalam otot jantung yang diakibatkan karena tersumbatnya pembuluh darah koroner secara tiba-tiba. 

Seseorang akan merasakan nyeri dada hebat, ampeg, dan panas yang mendadak saat mengalami serangan jantung. 

Sedangkan henti jantung adalah keadaan jantung secara tiba-tiba berhenti melakukan fungsi pompa sehingga darah tidak dapat bersikulasi. Kondisi ini sering menyebabkan kematian mendadak. 

Baca Juga: Pendaftaran KIP Kuliah 2021 untuk jalur mandiri PTN sudah dibuka, simak ketentuannya

Mencegah dan penanganan pertama

Henti jantung atau cardiac arrest bisa dicegah dengan melakukan penelusuran. Telusuri, apakah ada riwayat keluarga yang meninggal mendadak di usia muda. 

Jika terdapat kasus tersebut, cara pencegahan henti jantung mendadak adalah dengan melakukan medical check up ke dokter jantung. 

Hal ini dilakukan agar mengetahui apakah orang tersebut memiliki risiko tinggi mengalami cardiac arrest di masa depan atau tidak. 

Jika seseorang mengalami serangan jantung, pertolongan pertama yang perlu dilakukan adalah mencari pertolongan. 

Selain mencari pertolongan, Anda bisa mengecek kesadaran orang yang terkena serangan jantung dengan meraba nadi di leher atau pergelangan tangan. 

“Bila tidak didapatkan nadi, bisa memulai resusitasi jantung paru atau pijat jantung luar dan bantuan napas, sembari penolong lain bisa menghubungi ambulans untuk dapat segera membawa korban ke rumah sakit,” imbau Habibie.

Posisikan orang tersebut secara benar dengan posisi terlentang dengan alas yang keras. Posisi tersebut juga memungkinkan dilakukannya pijat jantung luar. 

Jika orang terkena serangan jantung dalam posisi duduk, dikhawatirkan darah dari jantung ke otak tidak bisa dipompa dengan baik. 

Posisi tersebut bisa membuat orang tersebut semakin tidak sadar dan mempersulit pertolongan pijat jantung luar. 

Bagi orang yang gemar berolahraga harus lebih sadar dengan kondisi tubuhnya sendiri. Jika memiliki risiko penyakit jantung seperti serangan jantung, sebaiknya menghindari olahraga yang bersifat kompetitif. 

Pasien harus tahu kapan harus berhenti berolahraga jika dada dirasa sudah tidak nyaman.

"Durasi olahraga yang aman bagi pasien jantung yang berisiko mengalami serangan jantung harus ditentukan berdasarkan uji latih jantung yang dilakukan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah,” jelas Habibie.

Selanjutnya: 10 Prodi Saintek dan Soshum terketat Unpad di SBMPTN 2021, ada prodi Anda?

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Tiyas Septiana
Terbaru