Hari Tuli Nasional 11 Januari: Sejarah Panjang Diakuinya BISINDO

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:11 WIB
Hari Tuli Nasional 11 Januari: Sejarah Panjang Diakuinya BISINDO

ILUSTRASI. Hari Tuli Nasional (Dok/Freepik)


Penulis: Bimo Kresnomurti  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Intip sejarah dan perkembangan Bahasa Isyarat dalam merayakan Hari Tuli Nasional. Bahasa isyarat bukan sekadar rangkaian gerakan tangan sebagai pengganti suara. Ini merupakan bahasa yang utuh, memiliki tata bahasa, kosakata, dan struktur linguistik tersendiri.

Bahasa ini berkembang secara alami dalam komunitas penyandang disabilitas pendengaran (Tuli/tunarungu) sebagai sarana komunikasi visual yang kaya makna dan ekspresi.

Perjalanannya mencerminkan perjuangan panjang untuk diakui sebagai bahasa manusia yang sah dan setara dengan bahasa lisan.

Di Indonesia, peringatan Hari Tuli Nasional setiap 11 Januari menjadi momentum penting untuk menghormati sejarah tersebut, khususnya pengakuan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) sebagai bahasa alamiah komunitas Tuli.

Baca Juga: Catat Peringatan 11 Januari: Empat Hari Besar yang Menginspirasi Dunia

Asal Usul Bahasa Isyarat di Dunia

Melansir dari Gerkatin, penggunaan isyarat sebagai alat komunikasi telah ada sejak zaman kuno. Salah satu referensi tertua tercatat pada abad ke-5 sebelum Masehi dalam karya filsuf Yunani Plato, Cratylus, yang menyebutkan bahwa orang yang tidak dapat berbicara menggunakan gerakan tangan, kepala, dan tubuh untuk menyampaikan makna.

Perkembangan signifikan terjadi pada abad ke-16 di Spanyol, ketika Pedro Ponce de León, seorang biarawan Benediktin, menjadi pelopor pendidikan formal bagi anak-anak tuli dari kalangan bangsawan. Ia memanfaatkan sistem isyarat yang digunakan di lingkungan biara dan mengembangkan metode pengajaran, termasuk alfabet jari, yang menjadi fondasi awal bahasa isyarat modern.

Puncak perkembangan bahasa isyarat terjadi pada abad ke-18 di Prancis melalui Charles-Michel de l’Épée. Pada tahun 1755, ia mendirikan sekolah gratis pertama bagi tunarungu di Paris. L’Épée mengumpulkan isyarat alami dari para murid, menyusunnya secara sistematis, dan membentuk Old French Sign Language.

Bahasa ini kemudian menyebar ke Eropa dan Amerika, serta memengaruhi lahirnya American Sign Language (ASL) melalui Thomas Hopkins Gallaudet dan Laurent Clerc pada tahun 1817.

Sejak itu, ratusan bahasa isyarat independen berkembang di berbagai belahan dunia, masing-masing dengan struktur dan tata bahasa unik. Bahasa isyarat bukan terjemahan dari bahasa lisan.

Pengakuan ilmiah terhadap bahasa isyarat sebagai bahasa alami diperkuat pada tahun 1960 melalui penelitian William Stokoe, yang membuktikan bahwa ASL memiliki sistem linguistik setara dengan bahasa lisan.

Baca Juga: Apa Arti Ucapan Merry Christmas Setiap Natal? Ini Makna dan Asal-usulnya

Perkembangan Bahasa Isyarat di Indonesia: BISINDO dan SIBI

Di Indonesia, bahasa isyarat telah berkembang secara alamiah di komunitas Tuli jauh sebelum kemerdekaan. Namun, dokumentasi dan pengorganisasian formal baru dimulai setelah Indonesia merdeka.

Pada 11 Januari 1960, Aek Natas Siregar bersama Mumuh Wiraatmadja dan rekan-rekan mendirikan Serikat Kaum Tuli-Bisu Indonesia (SEKATUBI) di Bandung. Organisasi ini menjadi tonggak awal kesadaran kolektif dan perjuangan komunitas Tuli di Indonesia.

Selanjutnya, pada tahun 1981, berbagai organisasi Tuli daerah bersatu dalam Kongres Nasional I dan membentuk Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN) sebagai wadah nasional perjuangan hak-hak Tuli.

Baca Juga: Cek Asal-usul Hari Wayang Nasional Setiap 7 November, Tokoh, hingga Contoh Perayaan

Pada tahun 1994, pemerintah memperkenalkan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. SIBI disusun dengan mengadaptasi ASL dan disesuaikan dengan struktur bahasa Indonesia, termasuk penggunaan satu tangan serta imbuhan awalan dan akhiran. SIBI kemudian diterapkan di sekolah luar biasa (SLB).

Namun, komunitas Tuli menilai SIBI kurang alami, sulit digunakan dalam percakapan sehari-hari, dan kurang mencerminkan ekspresi visual alami. Sebagai respons, komunitas Tuli tetap menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), yaitu bahasa isyarat yang tumbuh secara organik, menggunakan dua tangan, memiliki dialek daerah, dan lebih mudah dipahami antarsesama Tuli.

Pada Kongres Nasional VI GERKATIN di Bali tahun 2002, BISINDO secara resmi ditetapkan sebagai bahasa isyarat alamiah komunitas Tuli Indonesia. Upaya pengembangan BISINDO semakin diperkuat dengan pendirian Pusbisindo (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia) pada tahun 2009.

Baca Juga: Apa Arti Living Together yang Ramai di Media Sosial? Ini Kaitan dengan KUHP Baru

Hari Tuli Nasional 11 Januari dan Maknanya

Hari Tuli Nasional diperingati setiap 11 Januari untuk mengenang berdirinya SEKATUBI pada 11 Januari 1960. Penetapan resmi hari peringatan ini dilakukan melalui Rapat Kerja Nasional GERKATIN pada 21–23 September 2017 di Kediri, Jawa Timur.

Peringatan ini menjadi simbol perjuangan panjang komunitas Tuli, mulai dari pembentukan organisasi pertama, lahirnya GERKATIN, pengakuan BISINDO sebagai bahasa alamiah, hingga pendirian berbagai lembaga pendukung seperti Pusbisindo dan Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat.

Hari Tuli Nasional juga menjadi pengingat pentingnya kesetaraan akses dalam pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik, serta penghargaan terhadap BISINDO sebagai bagian dari identitas budaya komunitas Tuli Indonesia.

Di tengah masyarakat yang semakin inklusif, Hari Tuli Nasional mengajak semua pihak untuk memahami dan menghargai bahasa isyarat sebagai bahasa yang utuh dan bermartabat.

Tonton: Harga Beras Dunia Tertekan 2026! India, Thailand & Vietnam Berebut Pasar, Petani Terjepit?

Selanjutnya: Jual Rumput Karungan dan Konsentrat, Peluang Cuan dari Pakan Ternak.

Menarik Dibaca: Resep Roti Daging China Viral: Sensasi Gurih Renyah Langsung dari Dapur

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru