Mengenal Iranan Rial: Mata Uang Iran yang Kini Sentuh Nilai Tukar 0 Euro

Selasa, 13 Januari 2026 | 17:03 WIB
Mengenal Iranan Rial: Mata Uang Iran yang Kini Sentuh Nilai Tukar 0 Euro

ILUSTRASI. Uang Rial Iran (AFPOST/AFPOST)


Penulis: Bimo Kresnomurti  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Mengenal mata uang Iran yang sedang ramai diperbincangkan di dunia. Presiden Donald Trump mengeluarkan kebijakan agresif dengan pengumuman tarif sebesar 25% terhadap negara-negara yang melakukan bisnis dengan Iran.

Hal ini kemudian membuat reaksi seperti kondisi ekonomi salah satunya adalah nilai tukar mata uang yang dipakai di Iran. Tercatat, mata uang Rial Iranian menyentuh nilai tukar 0 Euro.

Lalu, seperti apa mata uang Iran dan kondisinya saat ini? Cek informasi selengkapnya.

Baca Juga: Mata Uang Bolivar Venezuela: Dari Stabil hingga Menjadi Salah Satu Terlemah Sedunia

Mengenal Mata Uang Iran

Mengutip laman Iran Gov, Mata uang resmi Republik Islam Iran adalah Iranian Rial (IRR), yang telah digunakan sebagai alat tukar utama sejak diperkenalkan pada tahun 1932.

Mata uang ini menggantikan qiran dan pada awalnya didukung oleh cadangan emas serta kekayaan sumber daya alam Iran, khususnya minyak bumi. Simbol resmi rial adalah ﷼, dengan kode ISO IRR.

Dalam praktik sehari-hari, masyarakat Iran lebih sering menggunakan istilah toman untuk mempermudah transaksi. Satu toman setara dengan 10 rial, sehingga nominal besar akibat inflasi menjadi lebih sederhana.

Baca Juga: Sejarah Mata Uang Yen Jepang: Fase Modernisasi hingga Lewati Krisis Global

Sebagai contoh, harga 1.000.000 rial biasa disebut sebagai 100.000 toman. Kebiasaan ini berkembang sebagai respons terhadap inflasi kronis yang menyebabkan denominasi rial terus membesar.

Rial dicetak dan diedarkan oleh Bank Sentral Republik Islam Iran. Pecahan yang beredar mencakup koin mulai dari 50 hingga 10.000 rial, serta uang kertas dengan nominal yang sangat besar, bahkan mencapai 1.000.000 rial.

Meskipun rial merupakan mata uang resmi, transaksi internasional Iran dalam praktiknya sering menggunakan dolar AS atau euro, disebabkan oleh berbagai pembatasan akibat sanksi global.

Hal ini disebabkan oleh berbagai pembatasan akibat sanksi global yang membatasi penggunaan rial di pasar keuangan internasional serta akses Iran ke sistem keuangan dunia.

Baca Juga: Daftar Negara yang Memakai Dolar AS sebagai Mata Uang Resmi

Sejarah Pelemahan Nilai Tukar Rial

Secara historis, nilai rial relatif stabil pada era sebelum Revolusi Islam 1979, dengan nilai tukar sekitar 70 rial per dolar AS. Namun setelah revolusi, berbagai faktor menyebabkan pelemahan tajam nilai mata uang ini.

Perang Iran–Irak pada periode 1980–1988, sanksi internasional terkait program nuklir, serta ketergantungan ekonomi yang tinggi pada ekspor minyak menjadi penyebab utama depresiasi jangka panjang.

Selain itu, inflasi yang tinggi, praktik korupsi, serta kontrol ketat pemerintah atas sektor ekonomi turut memperburuk kondisi rial. Dominasi Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) di sektor-sektor strategis seperti konstruksi, telekomunikasi, dan energi juga berkontribusi pada ketidakseimbangan ekonomi.

Hingga akhir 2025, nilai rial diperkirakan telah terdepresiasi sekitar 20.000 kali dibandingkan posisinya pada tahun 1979, dengan tingkat inflasi mencapai kisaran 43%.

Baca Juga: Intip Sejarah Poundsterling Inggris Raya, Mata Uang Tertua di Dunia

Kondisi Nilai Tukar Terkini

Melansir dari Reuters, nilai tukar rial kembali mencatat titik terendah baru. Iranian rial ke Euro kini dihargai 0 Euro. Kondisi ini menempatkan rial sebagai salah satu mata uang terlemah di dunia saat ini.

Pelemahan rial tidak terlepas dari dinamika politik global, terutama kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump yang kembali terpilih.

Pada masa jabatan pertamanya, penarikan AS dari kesepakatan nuklir JCPOA pada tahun 2018 memicu kebijakan “tekanan maksimum” melalui sanksi ekonomi, yang memangkas ekspor minyak Iran hingga sekitar 90% dan menyebabkan kejatuhan tajam nilai rial.

Pada Januari 2026, kebijakan agresif kembali diterapkan dengan pengumuman tarif sebesar 25% terhadap negara-negara yang melakukan bisnis dengan Iran.

Kebijakan ini diberlakukan secara cepat dan menimbulkan ketidakpastian besar, terutama karena definisi “berbisnis dengan Iran” tidak dijelaskan secara rinci.

Tonton: Krisis The Fed Jerome Powell Terjerat Ancaman Dakwaan Pidana

Selanjutnya: Kemenperin Gaspol Bangun Ekosistem Semikonduktor, Gandeng Apple hingga ICDeC

Menarik Dibaca: Promo Hypermart Beli Banyak Lebih Hemat 9-15 Januari 2026, Detergent Beli 1 Gratis 1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru